26.2.10

Jengki Teki (baca : “Jengkol Tokok”)




Ups…bagi sebagian orang mungkin agak gimana ya mengakui gemar dengan makanan yang baunya ngujubile, jengkol. Saya lebih senang menyebutnya “jengki”. Kalo saya sih, jujur saya, seneng (pake banget ga ya?) dengan makanan yang satu ini. Terserahlah, mau diapain aja. Mau direndang, atau disambel balado campur teri. Rendang jengki bikinan mama saya, paling bikin makan enggak mau berhenti. Beneran ni…Pas pulang tugas dr negeri Londo yang Cuma 3 minggu aja, saya mintanya dimasakin rending jengki. Dan, tebaklah…saya makan tiga piring dengan porsi giant (versi saya)…sampai suami saya, yang panggilan sayangnya “Wak Ndut”, mlongo…hehe

Balado jengki campur teri juga enggak kalah sedapnya. Tapi, untuk yang satu ini lebih enak yang jengki muda. Jujur saja, kalau beli jengki saya pun enggak bisa membedakan mana yang tua dan mana yang muda ;p …Kalau lagi mujur, saya bisa mendapatkan jengki yang bener-bener bikin saya enggak mau berhenti makan. Enaknya itu, gimana ya menggambarkannya, pulen-pulen gitu deh…

22.2.10

menu lagi melarat (2)




*sop*

ada yang nggak tahu bumbu standarnya sop?? kebangeten! hehehe... maap, abis emang kebangeten sih. sop kan sayur yang minimalis. bumbu standarnya aja cuma bawang putih dan lada dan (kalau ada) tambahkan biji pala. masalahnya, sop yang sedap biasanya berasal dari jasa kaldu yang sedap pula. dan kaldu yang sedap adalah daging yang segar. tapi gimana mampu beli daging atau ayam saat tanggal tua??

menu lagi melarat (1)


namanya juga pemula dalam rumah tangga, ngatur uang masih sering keteteran. padahal, nafsu perut maunya diisi yang enak-enak dan tentu saja nggak kurang gizi. daripada uangnya dikasih ke dokter mendingan kita beli bahan makanan yang enak-enak bukan?? *maap buat yang ngerasa dokter*

tapi yang namanya bokek sering nggak pake permisi. pengennya masak ayam goreng, sop buntut, soto daging, tapi kok yang ada di kulkas cuma segelintir sayur (sop-sopan, tauge, oyong alias gambas). coba kita lihat bisa dijadikan apa ya??

*bakwan alias weci alias bala-bala alias ote-ote*

menu lagi kaya


saat kondisi keuangan sedang bagus-bagusnya, kulkas saya akan terisi dengan banyak bahan makanan yang lebih istimewa dari biasanya. kalau standarnya cuma belanja ikan pindang (cue) atau kembung, maka saat sedang agak makmur saya belanja ikan bawal laut. 
yang belum pernah belanja ikan bawal, jangan sampai keliru dengan ikan bawal darat yaa... moncong bawal darat agak agak monyong dengan warna kulit kehitaman. sedangkan bawal laut lebih cakep dengan kulit yang lebih putih pula, hehehe. yang jelas, harga bawal laut lebih mahal daripada bawal darat.
di pasar minggu pekan ini, ikan bawal laut dibanderol Rp.30 ribu- Rp. 40 ribu per kilogramnya. pokoknya, jangan capek menawar dan jangan capek berbecek-becek muter-muter lapak ikan untuk mencari yang terbaik dan termurah. hehehe...

ikan bawal laut ini paling enak dibakar, tapi digoreng biasa saja pun rasanya sudah enak. diolah lagi dengan macam-macam bumbu jelas lebih enak lagi. salah satu yang sudah diuji coba di dapur saya adalah bawal bumbu acar. ini dia resepnya:

bahan
- ikan bawal laut 0,5 kg



21.2.10

Tantangan “Tahu, Tempe dan Ikan”…

Katanya, hidup tak berwarna tanpa tantangan. Begitu juga dalam memasak. Butuh tantanganlah, biar semangat…hehe…Saya dan Pika sepakat, tantangan itu jangan yang susah-susah. Secara, kita masih amatiran. Punya dapur masih mini banget. Punya waktu juga terbatas…(ngeles.com). Tak apalah berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian, bermudah-mudah dahulu sulit kemudian…Ini prinsip paling pas kayanya kalo mau mahir memasak.

Lalu, apa tantangannya? Yap! Kami udah deal, banyak-banyakan mengolah masakan berbahan dasar TAHU, TEMPE dan IKAN. Tadinya sih, cuma tahu ama tempe aja. Tapi, Pika usul tambah ikan. Bener juga sih, kasian suami cuma dikasih lauk tahu-tempe…wakakaka…walaupun, dua lauk itu selama ini memang andalan banget dan sehat juga kan? Lagian, ini cerita konyol sebenarnya. Akhir tahun lalu, saya tugas liputan ke 3 negara di Eropa. Pas musim dingin. Saat bengong, jujur sejujur2nya, saya terbayang tahu goreng abang2 yang suka di bis ama terminal, yang suka teriak “tararahuuuu”….hmm, membayangkan dingin2 makan tahu sumedang pake cabe rawit…rasanya saat itu baru merasakan, betapa beruntungnya tinggal di Indonesia, hehe…Akhirnya, pas di Kopenhagen, ketemu Restoran Bali yang dikelola orang Singapura, saya menyempatkan mampir. Mencari-cari menu tahu. Finally, menemukan menu “Tahu Goreng” dengan harga yang dirupiahkan 110 ribu, tahunya cuma sebegitu doang, hehe..padahal, kalo beli Tahu Bandung abang2 keliling, 5 ribu dapet 10 plus bonus satu… ^_^

20.2.10

pepes tahu


sabtu pagi, saya masak pepes tahu. meski prosesnya agak lama, tapi bisa jadi alternatif daripada cuma digoreng lagi dan lagi-lagi digoreng. selain itu, pepes tahu juga lebih sehat karena kadar kolesterolnya rendah. soalnya, masakan ini tidak menggunakan minyak goreng sama sekali (tapi agak ngabisin gas, hehehe). ini dia resepnya:

17.2.10

Inspirasi dari Seorang JULIE POWELL...

Harus diakui, blog ini lahir setelah terinspirasi nonton film JULIE and JULIA. Cerita tentang dua wanita di zaman yang berbeda, dengan latar yang berbeda, tapi punya semangat yang sama : suka tantangan dan punya hasrat yang besar dalam memasak...Saya dan Fiqa, hanya dua ibu muda (tepatnya istri, krn sampai tulisan ini diposting, belum punya baby, hehe), yang senang memasak disamping rutinitas kerja sehari-hari. Memasak bukan lagi dirasakan sebagai sebuah kewajiban, tapi sudah berangkat dari sebuah kesenangan ^_^... Hasilnya? Suami saya, badannya semakin besar dan besaaaarrrr...hehe...Suami Fiqa? Wah, saya belum tau penampakannya setelah hampir 6 bulan diurusin Fiqa, hahaha....
Kami juga punya tantangan yang bakal dijalanin, seperti layaknya Julie Powell membuat tantangan untuk dirinya sendiri : saya lupa persisnya, tapi tantangan yang dibuat Julie adalah 500-an resep masakan dalam 365 hari...kami? Nantilah, cerita soal tantangan saya buat pada postingan berikutnya...

sampurasuuun...

jeng inggit adalah seorang jurnalis. jeng pika adalah mantan jurnalis. dulu saat kami masih sama-sama lajang, saat kami kebetulan liputan di tempat yang sama, kami biasanya melahap bekal makan siang bersama kala jeda. rupanya kami berdua memang suka membawa bekal makan siang hasil masakan sendiri.

*dan sampai saat ini, jeng inggit masih sering membawa bekal makan siangnya jika liputan:-)

setelah menikah (tentu saja dengan lelaki yang berbeda), jadilah kami pemula dalam rumah tangga yang tak punya juru masak bayaran. kami lebih sering memasak sendiri, bukan hanya untuk berhemat, tapi juga untuk makanan yang lebih sehat. maklumlah, makanan di luar rumah kerap diragukan kebersihannya.

*tapi bukan berarti kami tidak doyan jajan lhooo:-)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...