15.3.10

Kisah Kami dan Kentang Goreng…


 Huff…sudah ingin bercerita lama sebenarnya. Tapi rutinitas meliput Pansus yang cukup banyak menguras energy, cuti dan dilanjutkan kembali dengan aktivitas meliput, ditambah dengan sedang senang-senangnya ngurusin “lapak online” kecil-kecilan, membuat saya tertunda untuk berbagi banyak cerita. Terutama soal cerita yang satu ini. Saya menyebutnya dampak sistemik dari meliput sepak terjang Pansus Century….
Jujur saja, meliput Pansus menguras banyak waktu, tenaga dan akhirnya enggak punya energy untuk memasak. Pulang malam, tidur. Bangun pun rasanya sudah enggan sreng-sreng di dapur. Jam tidur berkurang. Saya punya kebiasaan enggak mengenakkan. Tidur jam berapa pun, enggak bisa bangun siang. Akhirnya, ya badan rasanya agak tepar. Untung Wak Ndut cukup pengertian. Enggak pernah rewel soal makanan. Maka, menu instant dan ala kadarnya menemani kami selama saya sibuk ngurusin liputan Pansus. Kadang, masih sempat masak walau cuma telur dadar dan oseng2 seadanya…
Tapi, menjelang akhir Pansus dan sampai hari ini, saya seakan kehilangan mood memasak. Malas mengolah apa yang ada di dalam kulkas. Mungkin lelah itu sudah mencapai titik kulminasinya sehingga malas diajak ngapa-ngapain setelah pulang kerja.
Isi belanjaan bulanan di kulkas pun masih penuh. Bakso, nugget, kentang goreng, daging burger, daging giling, belum diapa-apain.
Hingga akhirnya, suatu malam Wak Arie request. “Kalau goreng kentang aja, ga bikin capek kan, Git?”. Ah, dia memang punya bahasa yang cukup halus untuk meminta ^_^…Saya pun mengiyakan dan menjanjikan sarapan pagi besok, kentang goreng plus bumbu kejunya. Saya pikir, dia mungkin merindukan masakan istrinya setelah absen memasak sekitar seminggu dan diajak ke warung Mbak Eha (warung deket kantor), hehe…
Pagi itu, satu piring penuh kentang pun mengisi sarapan pagi kami yang sangat minimalis. Upzz…ternyata dalam waktu sekejap ludes. Dan pagi-pagi berikutnya, sampai hari ketiga, kentang goreng terus jadi santapan tiap pagi. Entah Wak Ndut seneng banget kayanya…Saya enggak pernah nanya kenapa dia enggak bosen-bosen. Alternatif alasan yang ada di pikiran saya : kentangnya enak, dia bosan diajak sarapan di tempat Mbak Eha, atau alasan narsisnya : merindukan masakan istri, walau cuma kentang goreng, hahahaa….Ya selain cukup mengenyangkan, lumayanlah untuk membuat dapur tetap hidup walau hanya dengan aktivitas menggoreng…hehe…
Ada banyak cerita sebenernya, dampak sistemik Pansus terhadap kehidupan masak memasak saya …Ceritanya dalam seri berbeda ya…ennggak menarik kalau dicampur semua disini ^_^…
-Inggit-
Senin, Maret 15, 2010

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...