24.4.10

selimut yang krenyes krenyes itu

setiap kali menghidangkan makanan berselimut alias makanan dengan tepung bumbu (seperti ayam, udang, atau calamari), wajah suami saya pasti berubah curiga. "ini tepung bumbu beli ya?" tanya dia. kalau diiyakan, maka dia akan sedikit kecewa meski tetap dilahapnya juga itu makanan. kalau tidak diiyakan ya nggak mungkin, karena memang itu yang saya pakai.

sambil mencemil makanan berselimut itu, biasanya suami saya akan menceramahi saya tentang bahayanya makanan kemasan yang kita nggak tau persis komposisi pengawet, penguat rasa, dll yang bagi ibu hamil seperti saya mesti dijauhi sejauh-jauhnya.

lalu dia akan bertanya dengan halus dengan nada merayu dengan nada meminta. "eh kenapa nggak bikin rabuknya sendiri aja?" yang dimaksud rabuk adalah adonan tepung. "tempe rabuk sampean itu lho enak," rayunya merujuk pada tempe mendoan yang sering saya suguhkan buat dia.

16.4.10

mpok pike belajar masak nasi uduk

semasa masih lajang, masih nguli jadi wartawan, dan masih males masak, menu sarapan pagi saya dua tahun lalu nggak pernah jauh-jauh dari nasi uduk. selain murah meriah dan mengenyangkan (karena mengandung santan), nasi uduk sudah cukup enak meski lauknya cuma kerupuk saja (kerupuk kok lauk???). penjual nasi uduk di tempat tinggal saya dulu pun cukup banyak, asal nggak lewat jam 06.30 WIB, biasanya pasti kebagian.

nah sekarang, setelah menikah dan menghuni kontrakan yang agak terisolasi dari makanan enak dan murah, mau nggak mau hasrat nguduk ini mesti ditahan-tahan. kalau udah tak tertahankan, yah berarti mesti bikin sendiri dengan mengandalkan sms resep dari ibu saya. waktu dan tenaga buat jalan atau ngangkot memburu nasi uduk kan sama aja dengan masak sendiri. lagipula, bahan-bahannya toh sudah ada di kulkas dan dapur saya.

15.4.10

orek warteg

inilah makanan yang pasti ada di setiap warteg: orek tempe. biar kata makanan ini cuma berbahan dasar tempe, tetapi  penggemarnya banyak banget lho. apalagi harganya tergolong murah-meriah. dengan Rp 2 ribu saja, mbak warteg dekat rumah orang tua saya di pasar minggu, tanpa pelit-pelit menyendokkan orek sebanyak-banyaknya, cukuplah buat tiga kali makan buat saya.

saya jadi ingat di awal tahun 2008 lalu, saat harga kedelai melambung tak masuk akal, tempe menghilang dan 'mlijo' alias tukang sayur langganan saya saat masih tinggal di pejaten timur turun ke jalan (untuk berdemonstrasi maksudnya). saat itu, orek tempe pun menjadi makanan mewah. ikan, daging dan lauk pauk keren-keren lainnya jadi terasa membosankan. orek tempe pun dirindukan. baca saja di sini kalau tak percaya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...