31.5.10

Cerita "Bontot"

"bontot" ala kadarnya : mie dan ayam goreng :)

Menjadi wanita pekerja, ibu rumah tangga tanpa pembantu, banyak yang berpikir, pasti capek. Alhamdulillah, saya menjalaninya enjoy-enjoy saja. Suami saya, Wak Arie, juga pasangan yang bisa diajak kerja sama. Disela kesibukan, saya masih menyempatkan diri untuk memasak. Wak Arie memang enggak pernah ribet, mengharuskan saya masak atau apa lah. Tapi, memang saya suka MEMASAK!
Setiap hari, kalau memang lagi ga capek tingkat tinggi, sreng-sreng di dapur adalah rutinitas pagi. Goreng-goreng, masak-masak, tumis-tumis seadanya untuk sarapan dan bekal makan siang alias "bontot". Enggak tiap hari memang, tapi mostly lah, diusahakan membawa bekal makan siang sendiri.

Bukan karena alasan apa-apa. Memudahkan diri sendiri. Kalo disela kerja sudah merasakan lapar, tinggal makan aja. Agak takut terserang penyakit yang jamak dialami wartawan : MAAG! Jangan sampe deh...Awal jadi wartawan, pola makan saya sempat kacau. Siang pasti jarang makan. Takut ketinggalan momen, saat peristiwa ditinggal untuk makan.

Capcay "Capnyus Caphat"



Saya bersyukur, punya suami yang enak makan apa aja yang tersaji di meja. Hampir dipastikan, masakan saya tak tersisa. Semoga memang karena dia menyukainya :). Salah satu masakan yang sering saya masak adalah capcay. Ya, Wak Arie, suami saya, senang makan sayur. Kecuali sayur asem. Capcay, dia suka banget. Jadilah saya semangat kalau masak makanan yang satu itu. Bikinnya simple, dan bahannya juga enggak ribet. Cuma campur aneka sayur.

30.5.10

Oh…Oh…I Love You, TEMPE!



Ada apa dengan Tempe? Ini dia ceritanya....


Minggu pagi ini, sengaja mengajak jalan misua a.k.a Wak Arie. Biasanya, minggu pagi saatnya bangun siang. Tapi tidak untuk minggu ini. Sabtu malam, tiba-tiba pengen belanja di pasar sambil sarapan lontong Padang yang warungnya enggak jauh dari pasar. Kebetulan, kulkas lagi kosong. Cabe, tomat sama sekali enggak punya stok. Bawang juga. Lauk pauk juga. Beberapa hari ini, Kang Sayur yang biasa lewat di depan rumah, selalu mangkal dengan gerobaknya yang udah kosong. Bikin kesel.
Sampai di pasar, olala…enggak nyangka, ternyata harga-harga luar biasa tingginya. UDah lama memang enggak belanja di pasar. Kalau tak sempat ke pasar pagi-pagi, saya atau Wak Arie biasanya suka belanja di sepanjang Jalan Palmerah pas malam hari. Jam 8 malam biasanya sudah pada mangkal. Tapi, sebulan terakhir, aktivitas berdua memang lagi hectic. Udah capek duluan untuk masak atau sekedar belanja buat stok.

menjeng ajur

ini adalah cerita kegagalan saya membuat menjeng. tau menjeng nggak? kalau orang jawa timur, atau pernah tinggal di jawa timur, pasti tidak asing dengan olahan tempe ini. umumnya menjeng berbentuk lonjong, tapi ada juga yang bulat. biasanya si menjeng ini salah satu bagian dari sego empok alias nasi jagung, makanan yang sering saya rindukan kalau mudik ke trawas, di mojokerto sana.

maka ketika suatu hari saya mengidamkan menjeng yang sulit ditemukan di jakarta sini, seperti biasa, tak ada jalan lain selain membuatnya sendiri. pikir saya, halah cuma tempe diemek ae (dikepalkan saja).
dengan percaya diri, sambil membayangkan kepulan nasi hangat dan sambel yang akan menjadi kawan makan si menjeng, saya pun penuh semangat menyiapkan bahan-bahannya. dua potong tempe bonus dari abang tempe keliling yang baik hati, serta bumbu halus berupa bawang merah putih, ketumbar dan garam. tempe ikut diulek juga lalu diemek-emek alias dikepalkan. hehehe...


20.5.10

Memimpikan : Oven…


Semoga mimpi membeli oven terwujud Juni nanti…

Oven. Oven. Oven. Alat pemanggang ini jadi barang yang paling most wanted lah, buat saya saat ini. Sejak penasaran dengan cup cake yang lagi jadi primadona, saya jadi memimpikan bisa membuatnya. Satu-satunya alat yag bisa mewujudkannya adalah punya OVEN! Lah iya, wong harus dipanggang jee…Impiannya enggak muluk-muluk, cukup oven aluminium biasa aja. Kalo ga salah, mereknya H**K. Katanya sih, harganya tak lebih dari 300.000. Berhubung bulan ini lagi banyak pengeluaran dan dagangan lagi sepi, keinginan itu harus ditunda dl. Skala prioritas pengeluaran belum kesana…hehe…Wak Arie juga bilang, sabar dulu…baiklah…
Pas cerita soal mimpi saya dalam sebuah perbincangan maya dengan Mbok Piqa, dia langsung komentar, “Wah, nek aku belum mampu bu, beli oven”. Hehe, dikira Piqa, ak bakal beli oven yang sekalian kompor itu lo…huff…kalo yang itu nanti dulu. Nabung dulu :p Mungkin masih masuk skala prioritas ke 100, hehe…

19.5.10

sepinya dapur saya

beberapa hari ini dapur saya benar-benar sepi. sebagian besar makanan yang ada di rumah bukan lagi masakan saya, melainkan olahan dari mbak warteg, sungguh saya telah menyalahi pakem, hehe... pertama, karena saya benar-benar lagi mumet dengan deadline mengumpulkan tesis sehingga waktu saya banyak tersita di depan laptop.

kedua dan yang terutama, saya sedang sendirian di kontrakan, hiks... padahal, semangat memasak saya dipengaruhi oleh keberadaan suami saya. dialah yang selalu menghabiskan makanan buatan saya dengan penuh semangat. maka ketika dia tak berada di rumah selama tujuh hari karena penelitian di sukabumi, sungguh sepi rasanya dapur ini. aroma yang muncul di dapur paling-paling cuma bau gorengan telor ceplok saja. pikir saya, percuma masak heboh-heboh, yang makan cuma saya sendiri, kan nggak seru.

mohon maaf ya pembaca kalau posting kali ini begitu hampa dan tak sedap rasanya. saya janji deh, saya pasti posting cerita masakan lagi kalau suami saya sudah pulang. hehe...

16.5.10

jengki junkie

apakah ini jenis masakan jengkol lagi?? hehehe, sama sekali bukan. bagi mbok inggit, jengki adalah istilah lain dari jengkol. tapi bagi saya, jengki adalah teri jengki, jenis ikan teri yang kalau sudah dimasak pakai tomat hijau bakal bikin kecanduan. nambah lagi, lagi, dan lagi...


sebelum dimasak, si jengki ini biasanya saya rendam dalam air panas sekitar 30 menit supaya rasa asinnya berkurang. kalau sudah, si jengki digoreng setengah matang. jangan sampai gosong yaaa...

7.5.10

Si Merah


Kandungan karbohidrat dalam beras merah lebih rendah daripada beras putih (78,9 gr : 75,7 gr), tetapi nilai energi yang dihasilkan beras merah justru di atas beras putih (349 kal : 353 kal). Oleh karena itu nasi beras merah seringkali direkomendasikan sebagai bahan makanan yang baik untuk menurunkan berat badan.
 
Tepatnya sejak menikah dengan Wak Arie, saya mulai mengakrabi nasi merah alias si merah. Ya, sekitar 1,5 tahun ini lah, rice cooker di rumah harus memasak si merah ini. Alasannya? Katanya sih, si merah lebih menyehatkan dan mengandung kadar gula yang lebih rendah dibandingkan dengan nasi putih. Ini penting, mengingat Wak Arie memang sangat mempunyai bakat badannya cepat membesar :p

5.5.10

sayur pakis (artifisial), hiks...

tiba-tiba saya pengen sayur pakis. tapi di mana bisa ngedapetinnya? di jakarta, si sayur kriting itu kok seperti harta karun. selama belanja di beberapa pasar tradisional ibukota, belum pernah saya nemu si pakis idaman. sementara dulu di trawas, tempat tinggal saya dulu yang berada di antara gunung welirang dan penanggungan, kalau mau nyari pakis tinggal jalan ke warung saja.

maka ketika tiba-tiba saya pengen sayur pakis, saya cuma bisa ngayal saja. yang jadi obyek khayalan saya itu adalah seikat daun singkong yang rencana awalnya mau saya tumis. sepertinya daun singkong ini bisa diakal-akalin:-)

2.5.10

Yang Enak Ya Dipenyet…


Wah, si Mbok Piqa lagi rajin upload masakannya…saya sampe ngiler2 membayangkan rasa masakannya, saat melihat rupa di tulisannya ^_^…Ternyata, diam-diam, ahli juga dia…hehe…Jadi minder ni, masakan Mbok Inggit very-very simply (atau krn males ya?) :p …jujur aja, saya paling males bersentuhan dengan ikan-ikanan yang amis…termasuk malas juga menyiangi ikannya...hehe…

Nah, makanan favorit dan andalan saya, yang juga di sukai Wak Ndut/Wak Arie …tempe memang selalu tersedia di lemari pendingin. Seakan, makanan dari kedelai itu menjadi penyelamat kala saya atau Wak Arie mulai merindukan masakan rumah. Bikinnya guampang banget…rasanya tak perlu lah saya bagi resepnya disini, karena saking simplynya…Bumbunya, liat saja di tulisan “Jengki Teki” ya…almost sama, Cuma di tempe penyet emang lebih enak kalo agak pedes..


pindang bandeng? jangan kuning? asam pade?



kenangan apa yang pernah diberikan bandeng? kenangan saya akan bandeng melulu jelek. yang paling sering adalah keselek durinya.

beberapa hari yang lalu, saat saya bosan masak ikan laut, si bandeng ini saya lirik juga akhirnya.bingung mau dimasak apa, ibu saya menyarankan saya masak pindang bandeng atau suami saya bilang jangan (sayur) kuning karena kuahnya kekuningan. bumbunya tidak merepotkan, tinggal iris-iris saja zonder mengulek.

MMLL


judul resep kali ini terpaksa harus disingkat karena panjang betul: martabak mungil langsung ludes. ini adalah salah satu cemilan kegemaran suami saya yang pecinta gorengan. walaupun status gorengan bikinan saya adalah lauk, tetap saja dia akan melahapnya sebagai cemilan: nggak ada stopnya.

meski akhirnya saya jadi cuma bisa garuk-garuk kepala karena harus memikirkan masak lagi lauk untuk makan malam, tentu saja saya senang melihat dia lahap menyantap masakan saya. dengan (sok) bijak, saya pun kembali ke dapur (sok) mengalahkan rasa malas. hehe...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...