12.9.10

ngelmu pentol


seorang kawan yang penggemar bakso pernah berkata pada saya, kalau saja kita tahu langsung pembuatan bakso, bisa-bisa kita akan ogah makan bakso. pendapat teman saya itu ada benarnya juga. kita memang tidak kenal betul tangan pembuatnya. tapi kalau bakso sudah tampil di atas mangkok dengan kuah mengepul beserta pelengkapnya, siapa perlu berpikir panjang dari mana muasal si bakso? apakah dari daging sapi atau dari seekor kucing atau beberapa tikus yang kemarin masih tampak di sekitar rumah kita? apakah tangan si tukang bakso sudah dicuci sebelum meremas-remas adonan bakso? hehehe...

sebelumnya, berjanjilah pada saya bahwa setelah membaca dan melihat gambar-gambar vulgar di posting ini, jangan pernah kapok melahap bakso. sungguh anda termasuk orang-orang yang merugi makanan enak.

ngomong-ngomong soal bikin bakso, keluarga suami saya punya tradisi pesta pentol alias bakso pada momen-momen anggota keluarga berkumpul. bakso itu tentu saja bikinan sendiri. maka ketika menjelang lebaran kemarin ibu mertua saya datang ke rumah saya di bojonggede, saya pun ngelmu, mencuri ilmu membuat pentol.

yang paling pokok dari bahan bakso adalah daging sapinya. daging harus segar betul, supaya lebih yakin, pastikan pada si penjual dengan mengatakan bahwa daging yang akan dibeli adalah untuk membuat bakso. supaya dapat harga lebih murah, bilang saja bakso itu bakal dijual. hehehe...

dari tukang daging, kita beranjak ke lapak penggilingan daging. di sana sudah tersedia sejumlah pelengkap adonan bakso: sagu, garam, bawang putih, lada, telur, dan penyedap rasa. untuk 2 kg daging sapi, diperlukan 500 gram sagu, 2 butir telur, garam 1,5 kotak, bawang putih 6 siung, lada secukupnya, dan penyedap rasa. bahan yang terakhir ini biasanya dicemplungkan cukup banyak oleh pembuat bakso komersil.

mula-mula daging itu akan digiling setelah itu diselep (dihaluskan) bersama bumbu pelengkapnya. tampilannya kemudian akan menjadi seperti ini. adonan inilah yang akan kita bawa pulang.


selanjutnya adalah mencetak bakso. bagian ini yang mungkin kurang sedap dipandang mata. memang ada banyak cara yang tampaknya lebih higienis untuk mencetak bakso, misalnya dengan sarung tangan atau dengan sendok. tapi seperti kata julia child, bukankah hanya kita sendiri yang tahu apa yang terjadi di dapur. hehehe... maka, membentuk adonan bakso menjadi bulatan-bulatan sempurna akan lebih praktis dengan menggunakan telapak tangan kita sendiri. begini caranya:


mula-mula masak air hingga mendidih pada sebuah panci. lalu ambil sekepal adonan


adonan diremas-remas sebentar lalu dikeluarkan diantara jempol dan telunjuk. seperti ini:


taraaa... jadilah bulatan bakso yang siap direbus. 


gunakan sendok untuk melepaskannya dari cetakan tangan dan memasukkannya ke dalam rebusan air.


bakso yang sudah mengapung menandakan matang dan bisa diangkat satu persatu lalu ditiriskan. bakso itu sudah bisa langsung dilahap. tapi kalau mau disimpan dalam jangka waktu cukup lama, masukkan saja dalam plastik dan taruh dalam freezer.


kalau mau dimakan lagi, tinggal kukus saja.


membuat kuah bakso juga gampang, tinggal rebus tetelan atau tulangan sapi (biasanya bagian kaki), beri bumbu lada, bawang putih, dan sedikit pala yang sudah dihaluskan dan ditumis. jadilah kuah pendamping bakso. sayangnya hari itu si kuah urung dibuat karena bakso bikinan kami sudah cukup enak disantap meski hanya dengan dicocol saos sambel dan kecap.


(sebenarnya, kami sudah kekenyangan menggado bakso-bakso ini sehingga malas membuat kuahnya. hehehe...)


ps. 
bikin bakso sendiri memang tak harus pergi ke penggilingan bakso, bisa juga dengan food processor. tapi saya nggak punya sih, jadi ya nggak pernah nyobain juga. atau sudah ada yang pernah nyoba?

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...