19.11.10

sejoli yang tinggal fotonya saja 1


mohon maaf sebelumnya, ini adalah posting yang out of date banget, karena kue yang saya bikin ini juga sudah lamaaaa sekali. walhasil, kisah sejoli kue kastengel dan nastar ini hanya meninggalkan toplesnya yang sudah kosong melompong dan tentu saja potretnya untuk dibagi pada para pembaca dapurduaistri, hehehe...

kenapa saya bilang sejoli, karena keduanya memiliki bahan dasar yang hampir sama yaitu kuning telur, mentega, dan terigu. itu sebabnya, kalau ibu saya bikin kastengel, pasti juga akan bikin nastar. jadi, ada kastengel, pasti ada nastar, hehehe... maksa banget deh ya. tapi biarpun selalu muncul bersama karena adonan dasarnya serupa, citarasa dua kue ini agak berbeda karena adonan kastengel dicampur dengan keju, sedangkan adonan nastar ditambah dengan gula halus dan diisi selai nanas.

kali itu, saya pun menyiapkan adonan dasar kastengel dan nastar bersama-sama, yaitu kuning telur dan mentega yang dikocok dengan mixer. untuk 3 butir telur, mentega yang dipakai sebanyak 125 gram, silakan kelipatannya disesuaikan. sedangkan terigu tidak ada takaran pastinya karena memang dipakai belakangan, menyesuaikan dengan adonan telur dan mentega. oiya, jangan lupa satu sendok teh soda kue, dan satu sendok makan susu bubuk fulkrim.

mentega, kuning telur, susu bubuk, soda kue, semuanya dikocok dengan mixer sampai warna adonan agak keputihan. kalau mau lebih maknyus, tambahkan rum butter juga, banyak orang merekomendasikan merk wisman yang paling mantap.


siapkan keju kira-kira sebanyak 150 gram, boleh keju cheddar biasa, atau keju edam yang seperti buah apel itu, boleh juga campuran keduanya.


keju sudah diparut, langsung saja cemplungkan ke dalam adonan sebelumnya dan aduk sampai rata. eh jangan lupa sisakan keju parut untuk garnish-nya nanti, tapi cukup pakai keju cheddar saja.


sekarang, giliran terigunya (ada tips dari ibu saya kalau membuat kue, sangrai terigunya terlebih dulu supaya kue lebih awet).

ambil sebagian adonan, uleni bersama terigu dengan takaran yang kira-kira cukup membuat adonan itu tidak menempel di tangan lagi dan bisa dicetak.


 supaya gampang menggiling dan mencetaknya, pakai alas plastik


gilingnya, boleh pakai apa saja. kalau saya sih, cukup diratakan pakai tangan saja. hehehe..

mencetaknya? berhubung saya belum punya cetakan khusus kastengel, jadi ya saya cetak manual saja, dengan pisau dapur. jadinya ya memang ukurannya nggak seragam. ada yang kepanjangan, ada yang ketebelan, ketipisan, hehehe...

seperti biasa, loyang diolesi mentega. permukaan kastengel yang sudah disusun di atas loyang disepuh dengan kuning telur.


taruh sisa keju parut di permukaan yang sudah diolesi kuning telur tadi, tekan-tekan supaya lekat.


langsung saja panggang di oven. bisa di oven listrik atau oven tangkring seperti punya jeng inggried yang muat banyak loyang. oiya, oven saya memang masih nginep di rumah ibu karena saya cuma bisa bikin kue di sana. kalau di rumah saya sendiri dan tak ada yang menjaga si kecil, bikin kue yang butuh waktu lama ini tentu mustahil. pilihannya: anak terlantar atau kue bakal gosong, hehehe...

sayang sekali, kastengel ini benar-benar sudah nggak ada sisanya sama sekali. padahal waktu itu saya bikin empat loyang. selain saya kirim ke Ara, kue itu juga sudah disuguhkan ke tamu bapak saya, dicemili sama keluarga, terutama adik saya yang badannya kurus banget tapi ngemilnya nonstop. tapi tak ada yang lebih memuaskan pembuat kue amatiran blajaran seperti saya selain kuenya yang rasanya mungkin pas-pasan dimakan habis tanpa sisa.

lain kali, saya mau bikin yang lebih banyak supaya bisa ngirim ke jeng inggried juga...

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...