30.12.10

dendam peyek udang

*inilah peyek bikinan saya, yang dibuat dengan luapan dendam atas mahalnya peyek di warteg. udangnya guede kan? hehe...

semua gara-gara harga bahan pokok dan sayur mayur menggila! harga peyek udang kegemaran saya di warteg melonjak jadi Rp 2500, dengan kondisi yang makin minimal: hanya dua udang kecil yang ukurannya sak ndulit, numpang mejeng doang nih udang. dasar lagi pengen, keluarlah saya dari warteg itu dengan sekantung peyek udang dan hati yang mendendam. baiklah, itu berarti saya harus membuat peyek sendiri kan? sekalian untuk memenuhi janji saya di masa lalu untuk membagi resep peyek.

sayangnya, saya benar-benar kagok membuat peyek. jujur saja, saya merasa sangat tidak berbakat untuk jenis makanan yang satu ini. setelah dulu saya gagal membuat peyek kacang dan teri yang krenyes-krenyes, serta dapur saya di ragunan dulu jadi berantakan saking riweuh-nya, saya agak kapok dan sempat menyatakan: peyek adalah makanan yang dibeli, bukan dibuat sendiri.

tapi sudahlah, dendam ini harus disalurkan. dan caranya, saya harus mencoba membuat sendiri, dengan udang lebih besar dan lebih banyak, sukur-sukur lebih enak -meski tanpa vetsin. maka, beberapa hari kemudian pergilah saya ke pasar untuk berbelanja udang. Rp 15 ribu untuk setengah kilogram udang ukuran sedang. mantap toh? kalau di warteg, uang segitu cuma dapat enam peyek.

udang dibuang kepalanya dan dicuci, lalu siapkan bahan-bahannya:
-tepung beras
-sagu (sedikit)
-santan
-telur

bumbu uleknya
-ketumbar
-kemiri
-bawang putih
-garam

oiya, daun jeruknya nggak ikut diulek, melainkan dirajang haluuuuuuuus sekali. kalau sudah, campurkan tepung beras dengan sedikit sagu, masukkan santan, lalu bumbu ulek dan daun jeruknya, aduk-aduk.

waduh ada satu bumbu yang saya lupa belum diulek: kunyit! biar warnanya nggak pucet...

aduk-aduk semua bahannya, jangan lupa mengontrol keencerannya ya. jangan terlalu kental juga. kira-kira, lebih encer sedikit dari adonan pisang goreng. oiya, selain dengan udang, adonan ini juga bisa dicampurkan dengan ikan teri atau kacang.

ada beberapa versi membuat peyek, saya memilih yang dua kali goreng. pertama, adonan dituangkan di atas wajan teflon. kalau bisa sih tipis-tipis saja. kalau terlalu tebal, nanti namanya ganti jadi bakwan udang, hehehe...

peyek setengah matang lalu diangkat dan digoreng lagi di wajan yang lebih banyak minyak gorengnya.


hasilnya, memang belum memuaskan. sepertinya saya harus lebih sering ngelmu peyek. rasanya sih sudah oke, sayangnya si peyek ini hanya bertahan beberapa jam saja krauk-krauk-nya. setelah itu dia letoy lagi sekalipun sudah tersimpan rapi dalam toples. krauk-krauk-nya baru kembali kalau si peyek digoreng ulang.

adakah yang punya cara lebih jitu membuat peyek dengan kerenyahan tahan lama? bagi dong ke saya...

5 comments:

  1. Pik, pernah liat eyangku bikin peyek, adonannya gak dicemplungin ke tengah minyak, tp disiram di pinggiran wajan sampe jadi kerak dan keras, baru digiring berenang ke tengah ..

    ReplyDelete
  2. oiya iya... dikau benar sekali. pankapan kucoba lagi. tengkyu ya bu;)

    ReplyDelete
  3. pake tepung beras ditambah sedikit saja sagu. gak usah pake telor. http://dapursiswaty.blogspot.com/?spref=fb

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...