1.1.11

bubur spon eh... sagu

 *foto oleh abdil mughis

sepulangnya dari ambon, suami saya mendapat sekardus oleh-oleh makanan khas kota itu dari keluarga putuhena. salah satu oleh-oleh yang membuat saya mengernyit adalah kepingan sagu yang kerasnya alaihim. gimana makannya nih? tapi kata suami saya, cara memakannya ya tinggal dicelupkan ke air hangat, dan dimakan bersama lauk pauk layaknya nasi. dia pun mempraktikkan cara memakannya. ketika saya yang mencoba... pffffh, ampun deh, makanan apa pula ini kok rasanya aneh. yaa namanya juga lidah biasa ketemu nasi. disodorin sagu berasa makan spon. hehe...



suami saya, meski bukan orang ambon, bisa asyik-asyik saja melahapnya sebagai pengganti nasi. tapi saya kok belum menemukan kenikmatannya ya? hehe... untunglah ada pencerahan dari ibu saya: "dibikin bubur sagu saja, kayak kolak gitu lho." bongkar-bongkar kulkas, semua bahan pelengkapnya sudah ada: santan, gula merah, dan daun pandan yang tinggal petik dari pekarangan depan rumah.

untuk porsi lima orang, saya cuma membutuhkan dua keping sagu saja. sagu yang mirip roti panggang tapi amat keras itu direndam dengan air dingin sekitar satu jam. sesekali, sagunya diremas-remas agar lebih cepat hancur.


sagu yang sudah lunak kemudian dicuci dan ditiriskan.


selanjutnya, rebus air dengan gula merah, gula pasir dan pandan. takarannya? itu tergantung selera yang masak, doyan manis atau tidak;)


setelah mendidih, masukkan sagu yang sudah lunak tadi. aduk-aduk sampai warna sagu berubah jadi coklat mengkilap. kalau sudah matang, biarkan dingin. babak selanjutnya, rebus santan dengan daun pandang dan sedikit garam.


selesai. ambil beberapa sendok bubur sagu, siram dengan kuah santan. menurut suami saya, lebih enak dimakan dingin. jadi, lebih baik dimasukkan kulkas terlebih dahulu sebelum dimakan.

ngomong-ngomong, tampilan posting saya kali ini beda dari biasanya kan? ini karena saya baru saja belajar memotret dan mengotak-atik gambar pada orang yang sudah saya kenal lebih dari lima tahun lalu. siapa dia? suami saya sendiri *tepok jidat* kenapa baru sekarang belajarnya? entahlah, saya juga heran. kenapa nggak dari dulu-dulu ya? tahu begitu kan saya bisa punya dokumentasi masakan yang tampilannya lebih serius, tak asal jepret asal ada gambarnya doang.

keinsyafan saya bermula pagi tadi di tengah-tengah memasak si bubur sagu. kali ini entah kenapa saya kok malas memotret. kebetulan, suami saya tak menolak menggantikan peran sebagai fotografer amatiran. setelah saya lihat-lihat hasilnya, lho kok bagus? lho kok saya nggak pernah bikin foto seperti itu? lho kok saya nggak diajarin bikin foto kayak begini? saya jadi ngomel-ngomel nggak jelas dan jadi inget inggried yang pagi-pagi pernah nodong suaminya motret masakannya juga.

hasil penodongannya, sebagian foto dalam posting kali ini adalah hasil kerja keras suami saya. hohoho... makasih ya sayang;)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...