3.1.11

tetap 'huh hah' meski tak merah


ketika harga cabe sedang menggila, para konsumen sambal seperti saya jadi tak berdaya. bayangkan saja, cabe rawit merah sudah mencapai Rp 80 ribu per kilogram, ngalah-ngalahi harga seekor ayam kampung atau sekilo daging sapi. mlijo alias tukang sayur kini tak asal raup saat melayani pembeli cabe, melainkan menghitungnya satu persatu. demikian pula saya, kalau nemu cabe rawit nyelip di kulkas, rasanya seperti nemu harta karun.

maunya sih memasak tanpa cabe. tapi rasanya lidah kurang semangat menyantap makanan yang tak pedas. lalu bagaimana? harga cabe rawit terus melonjak hingga harganya jadi tak masuk akal. mesti putar otak nih supaya makan tetap 'huh hah', istilahnya inggried. jadi gimana caranya? kata tukang rujak dekat rumah saya: "semut item aja diulek." waduh, maap-maap ya mpok, kita-kita mending dijejelin cabe daripada semut...
dan saya pun beralih pada sambal cabe hijau yang selalu ada di rumah makan padang itu. meski tak sepedas rawit merah, harga cabe hijau lebih ramah di kantong untuk menghasilkan sambel yang banyak. yang penting bisa 'huh hah' deh.



bahan-bahannya gampang saja: cabe hijau (pilih yang gendut), tomat hijau, bawang merah dan bawang putih, serta garam. saya menambahkan rawit hijau (yang tak semahal rawit merah) agar lebih pedas.


mula-mula, cabe hijau dikukus, atau bisa juga direbus sampai cukup lunak. selanjutnya, ulek tomat hijau, bawang merah putih dan garam, serta rawit hijau jika mau lebih pedas. kalau sudah halus, baru masukkan cabe hijaunya, ulek kasar.


kalau sudah, panaskan minyak goreng, cemplungkan sambalnya. aduk-aduk sampai harumnya menguar...


dan, jadilah si sambal cabe hijau yang bisa awet berhari-hari, tentu asal dipanaskan. tapi setelah diicip-icip, sepertinya ada rasa kurang. yang jelas bukan vetsin dong, karena dapur saya tak mengenal s*s*, aj*n*m*t*, dan kawan-kawan. ternyata eh ternyata, kata ibu saya, lebih enak jika sambel ini ditumis dengan jelantah minyak goreng bekas menggoreng telur (tapi bukan jelantah yang warnanya sudah legam banget lho ya).

wah, betul-betul sambal hemat nih ceritanya, minyaknya saja pakai daur ulang, hihihi...

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...