14.2.11

hikayat cabai dan tomat


saya adalah awam dalam pengetahuan ekonomi. itu sebabnya saya selalu punya banyak pertanyaan mengenai mekanisme pasar. saya memulainya dari dapur saya yang memiliki relasi erat dengan para figuran (bukan aktor) perekonomian, diantaranya adalah bakul sayur dekat rumah saya di perbatasan citayam-bojonggede dan para bakul sayur pasar minggu.

pertanyaannya adalah, mengapa harga cabai masih juga mahal tak masuk akal? ceu etin, sang pedagang sayur masih ogah menjual cabe rawit merah. dia bahkan tak melayani pembelian cabai hijau jika hanya disodori selembar seribuan. "nggak dapet kalo segitu neng!"

baiklah, cuaca masih tak menentu, dan masih bisa dijadikan kambing hitam: curah hujan berlebih-gagal panen-cabai sebagai komoditi mudah busuk dan alasan-alasan serupa. tapi pertanyaan selanjutnya, ketika mahalnya cabai masih bertahan, mengapa sebaliknya harga tomat (yang juga mudah busuk) kini justru anjlok tak masuk akal?

beberapa hari lalu, ibu saya yang berdomisili di pasar minggu membawakan sekantung tomat ukuran sedang buat saya. isinya sangat banyak, sekitar 22 butir. berapa harganya? "dua ribu," kata ibu saya. artinya, nilai sebutir tomat hanya sekitar 90 perak saja!

jika demikian, maka alasan cuaca menjadi tak tepat lagi. petani pun tak serta merta menjadi pihak yang diuntungkan, malah menjadi pihak yang rugi.

tampaknya, para aktor utamalah yang dapat menjawab pertanyaan saya. bagaimana harga semestinya dikendalikan? bagaimana pemerintah menyikapi jerat rantai tengkulak dan praktik ijon?

walah kok ini tidak seperti obrolan di dapur ya? hahaha...


yuk kembali ke dapur saya, ada setumpuk tomat yang hampir genap matangnya. seketika terpikir untuk mengolahnya jadi saos tomat dengan resep hasil googling. banyak masakan yang jadi lebih sedap dengan saos tomat, tapi kita tahu saos tomat pabrikan tak murni tomat melulu. di kampung saya dulu di jawa timur sana, ketela rambat alias telo yang banyak ditanam petani setempat selalu diborong oleh pabrik saos. tentu saja telo itu menjadi bahan baku saos, sebab saos yang sarat tomat terlalu mahal. demikianlah, maka saos pabrikan mengandung pewarna dan perasa sintetis agar menyerupai pasta tomat asli.

karena baru pertama kali membuat saos, maka saya mencoba sedikit dulu, sekitar 7 butir tomat saja. tomat segar ini saya masukkan ke dalam panci berisi air panas agar kulit luarnya gampang dikelupas. selanjutnya, isi tomat (bagian biji) yang berair dibuang.


 daging tomat kemudian diblender tanpa air.


panaskan wajan tanpa minyak, masak saos tomat, tambahkan garam dan gula, aduk-aduk sampai saos mengental dan tak berair. dan, jadilah saos tomat rumahan, bebas pewarna, pemanis, perasa sintetis, dan pengawet. tentu saja ini kejadian luar biasa di dapur saya yang hanya muncul saat harga tomat anjlok, hehehe...


karena suami saya menyukai saos tomat ini, maka saya tergoda untuk membuat sekuelnya. kali ini, saya menjadikannya saos pedas. prosesnya sama, tinggal menambah cabai rawit merah (yang mahal itu) saat memblender tomat.


karena jumlahnya agak banyak, maka kali ini saya bisa menyimpannya dalam botol bekas saos pabrikan yang telah saya cuci dengan air panas. karena teksturnya agak padat, tak semulus dan sekental saos pabrikan, jadi beginilah saya memasukkan saos ke dalam botol. masukkan saos dalam plastik, lalu potong sudutnya untuk lubang keluar :)


saos tomat yang asli tomat ini memang tak bisa tahan lama meski mengandung garam dan gula yang menjadi pengawet alaminya. menyimpannya mesti di dalam kulkas, jika tidak, maka umurnya mungkin hanya tiga hari saja.


selesai membuat saos, tumpukan tomat saya belum habis juga. dan saya pun menyiapkan menu tomat lagi. apa gerangan? nanti ya, saya akan mengunggahnya setelah rasa mblenger berkutat dengan tomat ini hilang :)

2 comments:

  1. tenang ae, ngko tak jajal kabeh, termasuk nggawe uyah, mrico bubuk, cuka, bihun, mi kuning, dll *judule: gandengan pentol*

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...