16.2.11

positivisme resep?


apa yang dapat kita baca dari potret di atas? para pemasak pemula seperti saya, mungkin hanya mengartikannya sebagai sepotong puding coklat -sebab diberi garnish irisan coklat blok- dan vla vanila yang tampak segar.

tapi bagi ahlinya, tak perlu lama menebak bahwa puding itu adalah puding yang gagal. vla yang pecah menandakan kesalahan mengolah. puding yang tampak kaku menunjukkan volume air minimal dari yang seharusnya. sementara itu sang kreator -saya- adalah pemula yang selalu sok-sokan ingin bereksperimen dengan resep yang telah tegas mengatur komposisi.

apa artinya itu semua? apakah menentang hukum resep adalah hal yang salah?

puding itu, maksud hati hendak saya namakan 'puding sangat coklat' sebab bahan penyusunnya sangat banyak mengandung coklat. saya mencari berbagai resep dan menggabungkannya, berharap hasilnya akan lebih istimewa. bukankah eksperimen baik untuk berkesenian? -dan memasak yang sepenuh hati sama nyalanya dengan berkarya.


namun begitulah. meski bahan-bahan saya telah lengkap, mulai dari agar-agar coklat, susu coklat, sampai pasta coklat, namun saya menyepelekan takaran airnya. sehingga jadilah puding saya -yang sebenarnya sudah sempurna rasa coklatnya- menjadi puding tanpa kelembutan. 'puding sangat coklat' saya mengeras, lebih dari lazimnya puding.


sementara itu, vla yang gagal adalah akibat waktu yang tergesa, api terlalu besar, dan adukan tak konsisten.


ini bukan cerita gagal yang pertama. selain pernah gagal memasak menjeng dan nasi goreng, saya juga pernah gagal membuat puding roti keju kismis. padahal sebelumnya saya sudah sering membuatnya dan tak pernah gagal. suatu hari ketika saya membuatnya untuk diberikan pada tetangga, puding roti saya lebur tak bisa solid saat dikeluarkan cetakannya. sebabnya remeh, hanya karena saya iseng-iseng menambahkan santan kelapa. asumsi saya, santan memberi nuansa gurih dan itu jelas menambah lezat.

namun saya salah. puding justru pecah. dua kali saya menambah telur ke puding, namun setiap dikeluarkan dari pengukus, puding masih juga pecah. memperpanjang waktu mengukus juga tak mengubah puding jadi lebih baik. saya frustrasi: mengapa saya bisa gagal untuk resep yang selama ini saya kuasai betul?

"apa yang berbeda dari resep ini?" tanya suami saya.
"ada santannya."
"kalau begitu, maka santan itu biang keroknya," simpulan yang menebak. namun tebakannya benar. santan sebagai emulsi telah memecah ikatan puding roti keju. itu sebabnya, semua resep puding roti tidak merekomendasikan tambahan santan.

tapi apakah itu berarti kita mesti melulu terpaku pada resep?
jika hukum memiliki aliran positivisme yuridis untuk memonopoli hukum dengan hukum positif, maka haruskah mengekor para positivis dengan mengikat diri pada resep yang baku dan mengharamkan eksperimen demi janji ketidakgagalan?

ah, tidak juga. buktinya hampir seluruh resep dapurduaistri memakai jurus kira-kira dan jurus mengotak-atik isi kulkas. dan banyak juga yang berhasil meski pujiannya baru datang dari suami dan orang-orang terdekat kami :)

semua tahu, brownies si bantat pada mulanya adalah kue gagal, sebelum akhirnya menjelma jadi kue terkenal dan banyak penggemar. kini, 'puding sangat coklat' yang saya anggap gagal karena tak lembut dan vla-nya pecah itu, ternyata nyaris ludes dilahap suami saya dalam rentang waktu dua hari.

demikianlah, kegagalan atau ketidakgagalan memasak agaknya bukan semacam putusan :)

1 comment:

  1. iya piqa, gpp enak kok pudingnya beneran! ibuku jg gak manut positivisme resep, tapi pelanggan kateringnya tetap setia hingga sekarang, bahkan fanatik.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...