22.4.11

brokoso-brokopap


ini nih sayur favorit saya: si keriting brokoli. masaknya pun gampang. jangankan ditumis, dikukus saja sudah menggugah selera. di-mix and match dengan sayuran lain juga seru. inggried misalnya, menjodohkan brokoli dengan bayam dan tahu kuning, yang hasilnya juga maknyuss. resepnya bisa diintip di sini.

kalau dari dapur saya, yang paling sering muncul adalah paduan brokoli dengan irisan bakso, jadilah brokoso alias brokoli bakso. cuma tumis biasa tapi bikin lahap makan. apalagi bumbunya juga tak repot, cukup bawang putih dan bawang bombay dicincang, serta lada bubuk.



tumis brokoli juga sedap saat berpadu dengan paprika merah dan hijau. rasanya segar, dan penampilannya makin cantik. kita namakan saja brokopap.


brokopap sebenarnya tidak cuma brokoli dan paprika bertigaan, tapi bersama irisan daging sapi yang sudah direbus dan kacang kapri. dagingnya, seperti biasa, adalah sisa bahan rebusan kaldu MPASI anak saya, hehehe...


kali ini, saya memasaknya pakai double pan happycall. jadi resep ini cocok untuk yang mau diet karena tanpa minyak goreng. tapi karena saya tidak sedang diet (malah pengen gemuk!) dan supaya lebih sedap, maka saya pakai sesendok margarin untuk menumis bumbunya.


kalau sudah harum, langsung masukkan daging, kacan kapri, paprika dan brokoli. saya memasak beef brokopap di double pan selama lima menit. rupanya itu terlalu lama karena brokolinya jadi layu. jadi, mungkin bisa disiasati brokolinya dimasukkan paling akhir.


oiya, brokoli yang kriting cakep ini seringkali ditongkrongi ulat. biasanya ibu saya merendamnya dalam larutan air panas dan garam yang bisa membuat ulat pingsan dengan sukses, dan selanjutnya mengapung tak bernyawa (halah!). eh serius lho, di sini ada penjelasannya.

saat mendapati ulat dalam gerumbul brokoli, saya jadi berpikir apakah brokoli ini tanpa pestisida? ataukah si ulat sudah resisten dengan kimia yang juga ikut masuk ke tubuh kita itu? kalau mau benar-benar aman, brokoli organik solusinya. sayangnya, bukan hanya harganya yang lebih mahal, tapi juga sulit ditemukan di pasar tradisional, apalagi tukang sayur keliling.

tapi ya seperti motto saya, asal nggak dimakan tiap hari maka itu tidak masalah buat saya. hidup cuma sekali kok banyak banget pantangan makanannya. hehehe...

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...