7.10.11

oleh-oleh mudik


selalu ada makanan yang dirindukan setiap lebaran. di keluarga saya, biasanya ada rendang, opor ayam, dan ketupat bergandeng sayur sambel godok alias pepaya muda. di keluarga suami saya, mudik lebaran berarti rujak kikil, pentol, sate kelapa, tahu campur, sate pentol, kupang lontong, dan buanyaak lagi.

lebaran kemarin, saya mudik ke porong, sidoarjo, yang identik dengan lumpur lapindo itu (kampung suami berada sekitar 3 kilometer dari area semburan lumpur). di sanalah saya menjajal makanan jawa timur yang tidak gampang didapat di jakarta. kalaupun bikin sendiri, biasanya bahan-bahannya tak sekomplit di daerah asal. makanya selama di porong, tiada hari tanpa makan enak, mulai yang dibikin oleh ibu mertua, sampai yang jajan di pinggir jalan.


salah satu masakan bikinan ibu mertua saya adalah sate pentol. meski namanya berlabel pentol, tapi ini bukan semcam bakso bakar, tapi sate daging sapi yang berlumur bumbu rujak (kalau nggak salah, terdiri dari bawang merah bawang putih, cabe merah, cabe rawit, dan... saya lupa! hehehe...). bumbu-bumbu itu sukses jari-jari saya kepanasan beberapa saat setelah membuat sate bumbu rujak itu.

menu lainnya adalah dendeng yang bersalut kelapa ini. agak mirip serundeng ya? lagi-lagi saya tidak mengingat dengan sempurna, apa saja rempah yang terlibat dalam makanan ini. heboh dengan berbagai makanan membuat saya jadi pikun ;)


selanjutnya, ada makanan yang cukup familiar buat saya karena semasa tinggal di trawas gampang sekali menemui makanan mirip urap-urap ini. namanya, trancam. makanan ini dapat dipastikan selalu muncul saat kenduri. umumnya, komposisi trancam adalah irisan kacang panjang, ketimun, toge, dan petai cina yang berpadu dengan parutan kelapa bercampur cabe merah, cabe rawit, bawang, sedikit kencur dan terasi.


ada lagi makanan yang sering saya rindukan selama di jakarta, yaitu tempe menjos. nah, tempe menjos ini pernah jadi salah satu makanan terlarang saat saya masih kecil. ibu saya, entah kenapa selalu paranoid dengan penampakan menjos yang hitam butut, seperti busuk dan identik dengan keracunan. padahal, sebenarnya menjos semacam oncom. asal dimasak dengan tepat dengan tenggang waktu konsumsinya telah diperhitungkan, insya Allah tak ada masalah.

dulu, saya sering membeli gorengan menjos ini di sekolah, tentu saja tanpa sepengetahuan ibu saya. mencomot menjos yang bersalut bumbu ala mendoan, dilahap dengan cocolan sambal petis, lengkap rasanya!



ohya, ada satu lagi makanan unik buatan keluarga suami saya, namanya tahu gebyok. makanan ini muncul di keluarga ibu mertua saya setiap lebaran. penampilannya menggoda, berisi potongan tahu goreng dan mie kuning yang disiram kuah tauco yang dimasak dengan tomat. rasanya segar banget! sayang sekali potretnya tak tersimpan di folder saya karena suasana hectic masa lebaran kemarin.

begitulah, lebaran selalu punya banyak cerita tentang makanan. apakah itu juga jadi alasan mengapa lebaran selalu disambut dengan antusias? sepertinya iya ;)

2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...