14.2.11

pemberontakan (isi) tahu


gorengan, entah kenapa bagi saya tak pernah membosankan. mungkin karena porsinya sebagai cemilan dan rasanya akrab di lidah. gorengan juga pas di segala suasana. saat hujan, gorengan menjadi kudapan sempurna untuk dinikmati ketika baru diangkat dari wajan. di tengah hari yang terik, gorengan disertai sambal atau cabai membuat kita sulit berhenti mengunyahnya.

satu hal lagi, bahan-bahannya sederhana, murah meriah, dan proses membuatnya tak perlu ruwet. bahkan dari satu resep, bisa jadi dua jenis gorengan. misalnya tahu berontak yang saya bikin ini, terafiliasi dengan bakwan alias ote-ote alias weci alias bala-bala. singkat kata, gorengan ini makanan yang memudahkan. mudah dibuat dan mudah dihabiskan :)

hikayat cabai dan tomat


saya adalah awam dalam pengetahuan ekonomi. itu sebabnya saya selalu punya banyak pertanyaan mengenai mekanisme pasar. saya memulainya dari dapur saya yang memiliki relasi erat dengan para figuran (bukan aktor) perekonomian, diantaranya adalah bakul sayur dekat rumah saya di perbatasan citayam-bojonggede dan para bakul sayur pasar minggu.

pertanyaannya adalah, mengapa harga cabai masih juga mahal tak masuk akal? ceu etin, sang pedagang sayur masih ogah menjual cabe rawit merah. dia bahkan tak melayani pembelian cabai hijau jika hanya disodori selembar seribuan. "nggak dapet kalo segitu neng!"

baiklah, cuaca masih tak menentu, dan masih bisa dijadikan kambing hitam: curah hujan berlebih-gagal panen-cabai sebagai komoditi mudah busuk dan alasan-alasan serupa. tapi pertanyaan selanjutnya, ketika mahalnya cabai masih bertahan, mengapa sebaliknya harga tomat (yang juga mudah busuk) kini justru anjlok tak masuk akal?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...