24.2.12

bulgalbi


ini adalah posting yang tertunda sangat lama sekali, yang seharusnya sudah terunggah satu semester lalu, saat saya sering sekali memasak iga sapi. saat itu, menu MPASI anak saya tak jauh-jauh dari kaldu iga. sisa rebusan iga itulah yang saya olah, antara lain menjadi gule, iga panggang, sampai serundeng.

satu dari sekian serba iga sisa yang pernah saya bikin itu adalah bulgalbi, atau ada pula yang menyebutnya bulgogi. aduh saya nggak paham betul bedanya. yang jelas, resep makanan korea itu boleh nemu di buku resep dalam kemasan double pan. konon, si bulgalbi yang jamaknya dipanggang dengan arang ini oke juga dimasak di atas double pan. benarkah?
maka, saya mencobanya, dengan taat asas -eh, maksudnya taat resep. kali ini saya tak asal pakai jurus kira-kira karena makanan ini bukan makanan lokal yang rasanya bisa saya terjangkau oleh (istilahnya inggried) sense of bumbu.

inilah kopas resepnya:

bahan :
- 500 gr iga sapi
- 2 batang daun bawang


*pssst, ternyata ada satu komposisi yang saya tak taat asas: iganya sudah direbus duluan. maklum deh iga sisa MPASI ;)


bumbu :
- 50 ml kecap manis
- 5 siung bawang putih, diiris
- 1 ruas jahe, diiris
- 1 sdm gula
- 3 iris jeruk nipis
- 2 sdm biji wijen, disangrai
- 1 sdt lada hitam
- 1 sdt garam


pelengkap :
- 1/2 gelas air kaldu sapi

cara membuatnya standar double pan. panaskan double pan lalu masukkan semua bahan. teorinya makan waktu 7 menit, sambil sesekali membolak-balik double pan. tapi saya sih memasaknya lebih lama demi yakin matang. walaupun bisa jadi sebenarnya makanan ini memang tidak dinikmati dengan kematangan penuh. tapi rasanya masak daging kurang afdol kalau tak benar-benar matang (sate dikecualikan dari kriteria ini:)

begitu harumnya menguar keluar, wah terasa segar sekali. mungkin karena mengandung jeruk nipis dan ada aroma wijen pula. masakan korea memang nuansanya kan kecut-kecut begitu ya? saya icip sedikit, eh kok lucu rasanya. ini seperti semur bukan semur. enaknya lumayan sih. tapi lucu saja dengan perpaduan rasanya. gimana ya? susah menggambarkannya. yang jelas, saya lebih suka semur daripada makanan ini.

ah, dasar lidah lokal...

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...