13.3.12

mengapa kurang nendang?


resepnya dari pemasak kondang, bahan sudah komplit, demikian pula bumbunya, tapi kok hasilnya masih terasa ada yang kurang. seorang teman saya bertanya, "gimana ya supaya rasa masakan bisa nendang kayak di warung-warung atau restoran?" waduh, kalau mau disamakan dengan rasa masakan komersil, resepnya sederhana tapi sesat: pakai vetsin! hehehehe...

saya sendiri tak terlalu ambil pusing dengan kurang ini itu, juga kegagalan. tapi tentu saja setiap proses kreatif memasak menghasilkan temuan-temuan untuk hasil yang lebih baik. oh ini begini, oh ini seharusnya begitu. makanya, semakin intens saya memasak, semakin seringlah saya memakai jurus kira-kira alias tanpa menakar bumbu dengan serius. sebaliknya, saat saya sedang abai dengan dapur dalam kurun waktu cukup lama, mendadak menurun kualitas rasanya. istilahnya inggried, barangkali karena kehilangan sense of bumbu.

apalagi yang mungkin membuat hidangan jadi kurang nendang? saya kumpulkan ingatan tentang kegagalan memasak yang pernah saya alami, dan inilah beberapa catatan saya:

1. SOP please...
karena memasak adalah bersenang-senang dan bereksperimen, memang tak harus selalu taat aturan resep. tapi jika ingin hasil optimal, kita harus tahu trik-trik yang sebenarnya sudah standar. tapi standard operating procedure biasanya jarang muncul pada arahan resep, melainkan pada hukum kebiasaan yang sudah teruji turun temurun. ilmu ini biasanya gampang didapat dari ibu-ibu kita. misalnya, jangan lupa mengaduk santan hingga sayur mendidih agar santan tak pecah. misalnya lagi, mengurangi rasa asin (jika terlalu banyak memberi garam) bukan dengan menambahkan air, melainkan menyisipkan irisan kentang. contoh lain, saat memasak kacang hijau jangan pernah memasukkan gula sebelum kacang hijau pecah karena tak akan empuk. yang doyan pasta, ingat-ingat untuk memasukkan spagheti atau makaroni hanya saat air sudah mendidih jika tak ingin pasta lengket.


2. percaya 100 persen pada bumbu jadi
siapapun pernah malas, siapapun juga pernah bosan memasak, tapi kebutuhan perut tak terelakkan, dan tak memungkinkan untuk mendapatkan menu yang kita inginkan. solusinya, beli bumbu jadi yang sudah siap cemplung. meski bumbu-bumbu tersebut tampak berasal dari bahan-bahan yang segar dan bukan bubuk instan, tapi benarkah hasilnya selalu lezat? sebaiknya cek dulu dengan mencicipi rasanya, terutama rasa asin dan asamnya. perhatikan pula bumbu apa yang terlalu mendominasi. bumbu ungkep yang biasa saya beli di tukang ayam langganan saya cenderung kebanyakan kunyit. biasanya saya akan membuang sedikit, atau menambah bumbu dengan menambah bawang dan lengkuas.


3. better serve hot/better serve cold
saat paling tepat untuk menikmati tempe goreng adalah beberapa saat setelah diangkat dari wajan. lewat dari saat-saat hangatnya tempe, maka kenikmatannya akan berkurang sangat signifikan. tapi jika tempe itu disantap saat masih hangat, saya rasa nasi putih yang juga hangat, dan sambal terasi yang baru selesai diulek mendadak, maka makanan sederhana ini akan menjelma lezat tak terkira! hukum yang sama akan berlaku pada makanan yang paling pas disajikan dingin, seperti agar-agar atau puding.

4. pasangan yang sepadan
setiap masakan yang sempurna adalah masakan yang ada jodohnya. para pelengkap inilah yang ikut memegang kendali akan kenikmatan menyantap makanan. beberapa kali saya memasak rendang dan terasa tak tak terlalu istimewa. cukup enak, tapi tidak mendongkrak nafsu untuk menambah porsi. sampai suatu hari saya memasak rendang dan menyiapkan pula sambal cabe hijau dan daun singkong rebus. suami saya pun tak segan mengambil porsi besar, "wah klop banget ini, uenak pol!" demikian juga lauk-lauk sederhana seperti tahu tempe dan ikan goreng akan terasa sempurna saat berpasangan dengan lalapan yang cukup lengkap dan tentu saja sambal yang dibuat mendadak.

5. atmosfir
kekuatan suasana di sekitar kita tak bisa diremehkan demi meningkatkan kenikmatan bersantap. beberapa kali saya melahap menu-menu rumahan di resto besar. saya pikir-pikir, kok rasanya biasa-biasa saja. maksud saya, sepertinya buatan saya nggak kalah enak deh. tapi kenapa makan nasi tutug oncom di resto itu terasa luar biasa nikmatnya? saya tak punya saung yang elok dan tak terlalu suka memutar rekaman gamelan sunda, tapi cukup dengan lesehan di teras belakang sambil mengobrol dan menikmati semilir angin dan suara jangkrik, santap malam bersama selalu terasa lebih nikmat daripada duduk kaku menghadap meja.

6. kemasan kurang cihuy
ah, ini sih semua juga sudah tahu ya...  adakalanya makanan biasa jadi luar biasa karena penampakan yang menarik. rasa memang mutlak sebagai pengukur keberhasilan masakan memanjakan lidah, tapi kesan atas penampilan tetap muncul duluan. hanya satu perkecualiannya, yakni saat penikmatnya sedang kelaparan. bagaimanapun wujudnya, kalau sedang lapar pasti langsung hajar bleh!

7. memasak dengan cinta
pernahkah memasak dengan hati dongkol? saya sering. dan akibatnya beberapa kali saya gagal gara-gara memasak dengan muka kecut. walaupun masakannya memang tidak jadi kecut, tapi proses memasak jadi agak serampangan dan hasilnya ya juga kerap tak karuan. jadinya kurang ini kurang itu dan kerap kali ada tahap yang terlewat saking ngglambyar-nya pikiran ini. jika ada yang berkata, memasaklah dengan cinta, patut memang kita camkan baek-baek. pertanyaannya kemudian, nah kalau kita memasak dengan perasaan bahagia, apakah hasilnya dijamin enak? ya belum tentu juga, hehehe... tapi yang pasti, dengan perasaan bahagia itu, kita pasti bisa menikmati kegagalan ;)

8. lanjutkan!
ingat brownies? maksud saya brownies yang film besutan sutradara hanung bramantyo yang pernah dapat piala citra tahun 2004 lalu. film itu mengisahkan Mel (Marcella Zalianty) yang tak pernah berhasil membuat brownies yang lezat. berkali-kali bikin, dan berkali-kali Mel gagal sampai akhirnya dia bertemu Are, lelaki yang jago membuat kue coklat bantet itu. moral cerita film ini tentu saja soal cinta yang perlu usaha, yang pantang menyerah dan terus mencoba. dan demikian juga memasak, gagal lagi, ya coba lagi meski tak cukup sekali dua kali.


begitulah, nendang atau tidak nendang biarlah waktu yang bicara, hehehe... bagi pemasak amatiran seperti saya, kesuksesan memasak tak perlu dihitung. memasak bukanlah pekerjaan dan bukan rutinitas, melainkan untuk tiga hal. pertama, kebutuhan mengonsumsi asupan terpercaya komposisi gizi dan higienitasnya, memasak sendiri berarti bebas dari unsur-unsur pewarna, pengawet dan penyedap yang merusak daya tubuh kita. kedua, ruang eksperimen yang membuat kita jadi lebih kreatif, juga semacam relaksasi karena selalu ada kelegaan setelah menyelesaikan suatu masakan. ketiga, karena kepepet alias mengakali defisit keuangan kitchen cabinet  *pinjam istilah umar kayam :) percayalah, memasak sendiri jelas lebih irit dibandingkan membeli masakan di warung, apalagi resto. yuk, masak yuk!

2 comments:

  1. memasak karena kepepet... yak gue banget :) soalnya sini emang penganut kepercayaan bahwa: memasak itu adalah keahlian u/ bertahan hidup. Haahaha
    Tapi betul sekali, memasak itu masalah mencoba & latihan kok...lama2 jadi bisa.

    ReplyDelete
  2. setuju kakaakk... itu semacam sekte juga ya? hihihi

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...