16.6.13

yang hangat untuk kemarau basah


yak, lagi-lagi kita bersua musim yang ganjil. kemarau identik dengan terik. akan tetapi pada pekan-pekan ini, awan kumulus ikut datang juga. kemarau basah, demikian kata para pakar cuaca. bagi mereka yang banyak beraktivitas di luar rumah, musim yang demikian tak terlalu menyenangkan.

tapi bagi saya, kedatangan awan pembawa massa uap air itu ada enaknya. setidaknya, itu membuat saya jadi sering memamah biak. hujan bukan hanya membawa orang jadi romantis, terkenang-kenang masa lalu, tapi juga membawa nafsu mengudap juga kan? cocok bagi nyonya cungkring seperti saya (dan inggried juga kayaknya) yang selalu perlu banyak makan. hehehe... 

apa menu yang pas pada musim basah ini? tak ada yang paling sempurna selain menu-menu hangat. sop contohnya. walaupun sop buntut dalam gambar ini saya bikin sekitar bulan januari lalu (hah?!), tatkala hujan masih segaris pada musimnya. tapi kan tetap update ya buat dikonsumi sekarang.

karena waktu saya untuk memposting cerita ini tak banyak (pukul tiga sore, waktunya memandikan si kecil), maka langsung saja menuju link cerita sop kambing ini saja ya. karena bumbu-bumbu dan cara mengolah (juga menyajikannya) sama.

yang beda hanya bahannya saja, yakni buntut sapi. variasinya adalah sebagian daging-tulang buntut itu saya goreng sebagai teman bersantap sop ini. sebelum digoreng, lebih sedap kalau diungkep sebentar saja dengan bumbu bacem (terdiri dari ulekan ketumbar, bawang merah, bawang putih, gula merah, garam, dan dilengkapi dengan lengkuas-salam).

trik merebus sop ini sama halnya dengan sop kambing ala saya itu. supaya empuk, daging-tulang buntut direbus dengan api kecil. kalau mau kuahnya tidak butek tanpa lemak (seperti sop buntut ala restoran), jangan pakai air rebusan yang pertama. biasanya sih rebusan pertama saya ambil untuk saya simpan di kulkas sebagai kaldu.

rebusan kedua biasanya lebih bening, tapi saya jadi mikir nih, proses demi penampilan estetis sop ini apa tidak mengurangi kandungan protein dan kalsiumnya ya? jawabannya, silakan memilih: mau sopnya tampil cakep dan tidak ngendal (alias lemaknya menempel di langit-langit mulut), atau mau yang kuahnya pekat, tapi barangkali nilai gizi (juga lemaknya!) masih optimal.

demikianlah, selamat memasak, dan selamat menikmati kemarau basah dengan sop buntut goreng komplit dengan acar plus sambelnya. semoga musim yang anomali tetap bisa membawa inspirasi bagi kita semua (halah!).

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...