19.7.13

mimpi tengah ndapur

di sela-sela keriuhan dapur mungil saya, ada jeda yang kadang membuat saya bisa senyum-senyum sendiri. di tengah menanti rebusan kaldu, di antara rasa perih mata yang tersirap uap irisan bawang, atau saat menanti gorengan berubah warna keemasan. saat-saat demikian, adakalanya lamunan membawa saya ke masa lalu yang tak jauh-jauh dari kenikmatan ndapur. salah satunya adalah punya warung.

iya, punya warung. beneran, saat itu saya masih SMA kelas tiga (atau kelas XII kata anak zaman sekarang). kedudukan saya di sana adalah pemegang saham sekaligus pengelola (kadang jadi tukang masak, jadi peracik minuman, kadang juga jadi kasir dan pelayan *tapi tidak pernah mau jadi tukang cuci piring).

saya tak sendirian, ada sekitar... sebentar saya hitung dulu ya: 1.saya 2.rio 3.lilis 4.wati 5.mas hadi 6.mas anton 6.mbak hana 7.ambon 8.mas antok 9.mbak mimin. semoga hitungan saya tak salah. merekalah para pemegang saham di warung tersebut. nilai sahamnya sih murah meriah, tak sampai dua ratus ribu perak per-kepala. maklum saja, sebagian besar dari kami masih belum lulus SMA.

warung itu kami namai: kafe klompen. eh ada yang nggak tahu klompen? klompen adalah sandal kayu alias bakiak. keren yah judulnya 'kafe'? padahal kami ini orang ndeso, berada di kawasan pegunungan nan jauh dari kota. maklumlah, sebagai warungnya anak muda, wajarlah jadi agak nggaya gitu. padahal, FYI, lokasi 'kafe'-nya numpang di wartel milik mas hadi (salah satu pemegang saham). eh, pada masa itu, wartel sedang hits banget lho...

kenapa dinamai kafe klompen, kok saya lupa. yang jelas, ada klompen nangkring di atas meja. bukan maksud nggak sopan, tapi memang klompen itu sudah dimodifikasi jadi asbak (kreatif banget deh teman-teman saya itu). saya juga inget banget pada malam pertama launching, kami para pelayan wira-wiri berklompen ria. pletak pletok pletok pletak pletok...

malam pertama itu kafe lariiiis sekali, penuuuuuh sekali. ya iya dong, secara kami pemegang saham sudah mengobral voucher makan gratis kesana kemari. hahaha... kami memang nggaya sekali deh, pakai strategi marketing yang cukup canggih untuk kafe kelas kampung. mulai dari publikasi yang kemana-mana (dari tempel brosur, sebar flyer, sampai nebeng acara request radio lokal, hahaha... so last decade lah ya), juga acara launching yang keren, serta nama menu yang centil.

satu yang saya ingat adalah 'teh kabut', ini menu ciptaan rio. kalau tidak salah, komposisinya adalah es teh yang di-mix  dengan jus apel. rasanya oh segar tiada tara! ada lagi nasi goreng romansa, eh itu nasi goreng biasa sih, cuma dicetak dengan bentuk hati, hehehe...

kafe kami lumayan ngetop juga seantero kampung. meski tak punya ruang luas (kalau tak salah cuma ada 4 meja dan 16 bangku), tapi harganya yang ramah di kantong membuat kafe kami sempat di-booking untuk pesta ulang tahun.

sayangnya, 'kafe klompen' tak panjang umur. karena kesibukan pribadi para pemegang saham (yang sekaligus tukang masak, pelayan, dll), akhirnya manajemen mulai kurang terawat, dan pada akhirnya dengan sangat menyedihkan kami bubar deh.

akhir dari flashback itu, saya pun teringat ada sederet cerita yang mewarnai perjalanan kafe kami. saya ingat dulu jaga kafe sambil sangu buku soal-soal ujian masuk PTN. saya juga jadi ingat ada yang jatuh cinta, ada yang putus cinta, segala macam drama dan tragedi, hahaha... sepertinya yang bagian itu tidak perlu dibahas lebih lanjut di posting ini, biarlah menjadi rahasia kami saja.

aduh, terkenang-kenang masa lalu itu membuat saya jadi pengen jualan makanan lagi. mungkin nanti saya akan bikin warung bersama inggried. dengan nama yang sudah mutlak tentunya: 'dapur dua istri' :-)

3 comments:

  1. kyknya aq salah satu pelanggan di hari pertama itu... hehehe

    ReplyDelete
  2. kereeeeen. jeneng kafene unik, menune juga, hehehe. ayo ndang buka kafe neh pik, ngko takbooking gawe loncing bukuku, hahaha *ngayal

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...