3.8.13

baceman ayam




ayam goreng bumbu bacem telah menjadi salah satu makanan favorit anak sulung saya. setiap mengetahui saya sedang memasaknya, dia selalu kelihatan tak sabaran. akibatnya, baru selesai dimasak ungkep (dan belum digoreng), dia akan langsung minta menyantapnya.

keranjingan baceman ayam ini bermula bulan lalu, saat dia pulang kampung ke rumah mbahnya di porong. saat itu dia diajak makan malam di restoran ayam goreng 'Sri', di daerah pandaan. dan makannya lahaaaap sekali. mbahnya pun membontotkan ayam goreng itu untuk bekal perjalanan kembali ke jakarta pada keesokan harinya.

saat bapaknya menceritakan hal itu, saya merasa lucu sendiri. komentar saya saat itu adalah: 'wah, kau jetset kecil nak!" gimana nggak jetset, dua puluhan tahun saya wira-wiri menempuh rute trawas-pandaan, melewatinya pagi-sore saat SMA, tapi saya belum pernah sekalipun masuk restoran itu. meski ternyata harganya terbilang cukup standar restoran, tetap saja kesan rumah makan kaum borjuis seolah melekat di sana.

setiap akhir pekan, deretan mobil menyesaki tempat parkirnya. dan saya, si anak singkong... eh anak kampung, meski penasaran apa gerangan yang membuat resto itu demikian larisnya, jadi minder dong masuk ke sana. takut duit nggak cukup :)

maka harap maklum jika saya agak sedikit lebay saat mencicipi sisa bekal ayam goreng yang sudah ngintil perjalanan pesawat dari juanda ke soekarno-hatta. "oo, begini toh rasanya ayam goreng 'Sri', oo..." tapi saya tidak menikmatinya benar-benar, melainkan langsung sok sibuk menebak-nebak komposisi bumbunya.

analisis saya, bumbu bacemlah yang mirip sekali dengan rasa ayam goreng ini. jadi, ya ketemu lagi dengan ketumbar, bawang merah, bawang putih, gula merah, dan garam yang semuanya diulek halus, lalu disertai lengkuas dan daun salam. dan yang paling penting lagi, saya menggunakan cukup banyak air kelapa untuk mengungkep ayam bacem ini. pokoknya sampai merendam seluruh potongan ayam ini. untunglah para tukang sayur langganan cukup royal membungkuskan air kelapa untuk saya :)



setelah dimasak ungkep hingga bumbu meresap, bacem ayam ini lebih oke digoreng sebentar saja. goreng dengan wajan teflon karena komposisi gulanya cenderung membuat ayam lengket di wajan biasa. yang penting juga, api kompor jangan kebesaran agar tak lekas gosong.


demikianlah, setelah dua dekade akhirnya saya baru bisa mencicipi ayam goreng 'Sri' yang di masa lalu tampak begitu mewah. ada rasa bahagia yang norak karena keduluan anak saya menyantap ayam goreng dari resto (yang dulu saya cap) elit itu. tapi kebahagiaan dan kebanggaan saya yang paling super adalah bahwa saya bisa meracik tiruannya dengan rasa yang oke buat anak saya. iya, tentulah ukuran sedapnya adalah lidah anak saya. karena paling utama untuk dialah saya memasak :)

1 comment:

  1. badge KBB nya nutupin postingan - ada yg ga bisa kebaca

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...