21.9.13

dari pekarangan untuk dapur



tumbuhan apakah ini? ada yang belum tahu? tumbuhan ini tahu-tahu saja nongol di pekarangan belakang rumah. bukan karena saya niat menanamnya. agaknya, burung pipit yang sering mampir ke pekarangan saya membawa berbagai benih tumbuhan yang kemudian berkembang.

meski tumbuh liar, namun ia memiliki nama yang cukup keren: ginseng. saya belum sempat mencari tahu apa sebab ia mendapat nama yang sama dengan ginseng yang ngetop sebagai bahan obat-obatan dari korea itu. yang pasti, saya pernah mendengar sebutan ginseng yang satu ini dengan ginseng jawa. dan si ginseng itu bukan tumbuhan liar belaka karena daunnya bisa disantap sebagai lauk.

biasanya, suami saya yang sering mengolahnya saat membuat bakmi goreng ataupun bakmi rebus. ginseng jawa ini oke sebagai pengganti sawi hijau. ditumis pun oke juga. teksturnya yang mirip daun genjer (mudah layu dan berubah rasa jika dimasak terlalu lama) membuat kita harus ekstra cepat mengolahnya.


selain ginseng jawa, bayam pun nongol dengan sendirinya tanpa saya tanam. lagi-lagi, bayam ini sangat bermanfaat untuk mengatasi hari nan malas berbelanja. tinggal petik daunnya, siap dimasak deh. dibandingkan dengan bayam yang biasa dijual di tukang sayur, bayam liar ini teksturnya lebih lembut, lebih enak dikunyah. untuk bikin kerupuk bayam juga oke karena penampang daunnya relatif besar.

tak hanya yang liar, ada pula yang serius saya tanam, seperti katuk yang tinggal tancapkan saja batangnya.


oiya, satu yang wajib ada di pekarangan adalah pandan. banyak sekali menu yang membutuhkan keberadaannya, akan tetapi si pandan sangat jarang sekali dijual tukang sayur.


saya juga punya saudara pandan yang biasa saya pakai untuk pewarna alami saat membuat klepon dan bubur sumsum, yaitu daun suji. cara menanamnya sama saja dengan si katuk: tancapkan saja batangnya :-)


yang lain yang tak kalah penting adalah bumbu dapur yang saya lebih suka menggunakan istilah jawanya, yakni empon-empon. begini wikipedia menulisnya.

Empon-empon inggih punika manéka warni taneman ingkang mliginipun dipunginakaken kanggé tamba utawi obat tumrap penyakit-penyakit tinamtu.[1] Empon-empon punika saged awujud oyod-oyodan, woh-wohan, utawi gegodhongan. Nanging, boten sedaya oyod, woh, utawi ron saged dipunwastani empon-empon. Namung sapérangan kemawon ingkang mligi damel obat utawi tamba. Empon-empon tumrap tiyang kathah, kajawi saged damel tamba ugi asring dipunginakaken kanggé bumbu masak, pramila boten nggumun menawi kathah ingkang migunakaken empon-empon punika. wonten saperangan empon-empon jangkep kaliyan kagunanipun, kados ingkang kapacak ing ngandhap punika.

roaming deh yang nggak bisa bahasa jawa, hahahaha... singkatnya, empon-empon itu segala macam tanaman yang bisa jadi obat, bisa juga untuk bumbu masak. yang eksis di pekarangan saya antara lain jahe, kunyit, lengkuas, temu kunci, dan daun jeruk. yang lainnya, belum sempat saya tanam...

saya selalu membeli paketan empon-empon... eh, bumbu dapur itu, di tukang sayur. tapi kadang ada saat dimana saya kehabisan salah satu jenis bumbu. dan tentulah nggak worth it jika harus berjalan ke komplek sebelah hanya untuk mencari satu jenis bumbu saja. dengan punya tanaman bumbu penting tersebut, tinggal cungkil saja saat dibutuhkan.


begitulah, saya selalu merasa beruntung dengan rumah mungil di pinggiran jakarta ini. luasnya memang tak seberapa, namun dengan pekarangan di belakang rumah, saya bisa menanam sejumlah bahan masakan penting untuk dapur, yang jika dibutuhkan tinggal comot saja.

cita-cita berkebun saya masih berderet panjang untuk menanam sayur ini, sayur itu, pohon ini, dan pohon itu. meskipun sering terhalang kesibukan lain, saya tetap memelihara obsesi itu. semuanya demi terwujudnya kemandirian dapur dan ketahanan pangan nasional. merdeka!
(halah, orasi lagi --__--)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...