8.10.13

cake kabocha


orang bijak berkata, hidup ini seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. demikian dapur saya, juga berputar dalam ritme roda rajin dan malas. kadang saya bisa sangat semangat memasak, dan kadang bisa pula sangat malas sekali. salah satu tanda kerajinan saya adalah bikin cake.

maklum saja, membuat cake untuk servantless mother kayak saya perlu banyak ketabahan. mulai dari menyiapkan bahan, hingga mengolah dan membersihkan dapur. belum lagi si bocah setia menanti dengan tak sabaran. kalau sudah demikian, maka memasak bukan hanya proses menghabiskan energi, tapi juga menguras emosi, hehehe...



nah, kali ini saya membuat cake kabocha alias labu parang. resepnya, langsung contek saja dari cake jagung kukus yang pernah dibikin inggried di sini ya. bahan-bahannya persis, tinggal mengganti jagungnya dengan kabocha yang telah dikukus dan dilumatkan.


saya menempatkan adonan ini tidak dalam loyang melainkan cup karena anak saya selalu tampak berbinar-binar jika dapur saya mulai berantakan. "mau kapkek, bu..." maksudnya, mau cupcake...


sedikit intermezzo, saya punya pertanyaan penting, kenapa anak-anak kebanyakan suka sekali sama cake dalam cup alias cupcake ya? padahal jujur saja, rasa cake itu dimana-mana ya begitu itu. enak sih, tapi tak serta merta membuat saya ketagihan (tanda makanan enak adalah membuat saya nagih). lagi-lagi barangkali karena lidah saya lidah ndeso.


cake yang simpel dan tanpa bahan aditif ini memang bukan jenis cake yang awet lembutnya. jadi, sebaiknya sih langsung dikonsumsi hangat-hangat. kalaupun terpaksa menundanya, bisa dihangatkan ulang dengan memasukkannya ke dalam pemanas nasi (magic jar). 

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...