7.5.14

Panna Cotta, atau Apapun Itu...


what's in a name?
that which we call a panna cotta
by any other name would smell as sweet.

Sepotong santapan penutup dengan citarasa manis biasanya sulit ditolak sekalipun perut sudah terasa sesak. Tapi bagi saya, apa yang disebut dessert pun tak selalu berada dalam kedudukannya sebagai penutup santapan utama. Begitupula dengan si ungu manis yang lembut membelai lidah ini.

Orang menyebutnya panna cotta. Berasal dari tangan para peracik makanan Italia, panna cotta dianggap berbeda dengan agar-agar karena tekstur yang lebih lembut dan creamy. Itu karena kandungan gelatin dan heavy cream di dalamnya. Namun di mata anak saya, apapun nama kerennya, makanan bertekstur kenyal lembut kayak begini adalah agar-agar.



Yang pernah mencoba panna cotta  dengan resep orisinilnya, tentu bisa merasakan eksistensi gelatin di dalamnya. Tapi kali ini, saya membuat panna cotta tanpa gelatin dengan pertimbangan malas ke toko bahan kue, hehehe... Lagipula, agak sulit mencari gelatin yang halal karena umumnya gelatin mengandung pork.


Resep panna cotta tanpa gelatin ini rupanya gampang banget ditemui dari pencarian google. Saya mengacu pada resep dengan komposisi agar-agar dan tepung konyaku masing-masing sebungkus, 500 ml heavy/whipped cream,  1sdt ekstrak vanili, susu UHT (kalau mau rasa creamy yang lebih medok), dan gula sesuai selera.


Agak iseng, saya bikin panna cotta ubi ungu yang kebetulan sedang ada di dapur saya. Ini juga untuk pertimbangan warna alami, supaya centil cantik begitulah. Saya hanya perlu mengukus ubi ungu hingga lunak, lalu menghaluskannya dengan blender. Hasil awal, warnanya ungu ngejreng, tapi begitu tercampur dengan krim, adonan panna cotta tampak lembut karena berubah jadi ungu pastel.

Cara membuat panna cotta sesimpel membuat agar-agar. Campurkan semua bahan lalu masak hingga simmer atau mendidih sejenak. Matikan kompor, dan tuang adonan panna cotta ke dalam cetakan.


Peringatan pertama untuk membuat panna cotta: cetaklah dengan bergegas. Panna cotta rupanya cepat mengeras. Jika terlambat, hasilnya bisa agak kacau seperti di bawah ini.


Jika ingin lebih segar dan lebih keras, boleh juga memasukkan panna cotta ke dalam kulkas sebelum disantap. Selanjutnya siapkan saus buah berry sebagai pelengkap. Saus stroberi yang saya bikin bisa dibilang berstatus selai. Artinya, sausnya cukup kental sehingga sisanya masih bisa dipakai untuk olesan roti.


Oiya, ngomong-ngomong, apakah ada yang tahu apa makanan kegemaran Shakespeare? Apakah dia doyan puding atau agar-agar seperti anak saya? :)

3 comments:

  1. Halo!

    Apa kabar? Salam kenal dari kami www.mytasteindonesia.com, Kami melihat bahwa Anda memiliki beberapa resep yang lezat di blog Anda.

    Kami ingin memasukkan blog Anda pada daftar Top Food Blog di MyTasteIndonesia.com, sebuah jejaring sosial buat Anda yang menyukai masakan dan juga yang pemilik blog seperti Anda. Banyak blog yang telah menjadi anggota dan mendapatkan keuntungan dari publikasi di situs kami.

    Anda dapat menambahkan blog Anda pada daftar Top Food Blog kami dengan mengikuti link ini http://www.mytasteindonesia.com/top_food_blogs

    Mohon untuk membalas email ini agar kami mengetahui bahwa Anda telah menerimanya. Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya. Semoga kami akan melihat blog Anda di daftar Top Food Blog kami.

    Salam,
    Immanuel Kabuhung
    MyTasteIndonesia

    ReplyDelete
  2. Salam kenal dua istri ��
    Nanya yaa.. tepung konyaku itu apa ya, trus pake whipped cream ternyata bs, kirain cm krim kental aja. Whipped creamnya dikocok dulu yaa..
    Makasihh..

    ReplyDelete
  3. Salam kenal, Mbak Piqa :) Tampak enak nih panna cotta nya, ingin mencoba ni.. Thanks sharingnya ya

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...