11.6.14

Cookies Galau



Kali ini saya berbagi cerita tentang kegalauan saya dengan cookies alias kue kering dan pasangan hiasannya: icing warna warni. Cerita dimulai ketika suatu hari saya mendapat oleh-oleh  cookies hias warna warni yang rasanya oh lezat nikmat sekali, mendadak saya lupa dengan sumpah tidak mau bikin cookies sampai anak-anak saya sudah melewati masa rewelnya. Mendadak saya nawaitu mau bikin cookies lagi.

Lalu saya mulai mengumpulkan bahan-bahan cookies jika kebetulan mampir di hypermarket ataupun toko bahan kue. Sembari menengok berbagai laman yang berbagi cerita tentang pengalaman para pembuat cookies yang amatir, juga pengalaman para senior yang sudah dalam tahap master. Sambil mencari alokasi waktu, saya juga merancang strategi bagaimana supaya tidak ada kerusuhan dapur seperti pembuatan cookies alfabet beberapa waktu lalu itu.


Karena  saya adalah manusia super sibuk (hahahaha) jadi saya mengatur proses pembuatan cookies menjadi tiga sesi. Pertama, sesi mengumpulkan bahan, menimbang, dan menyangrai. Sesi kedua, membuat adonan dan memanggang. Terakhir, menghias cookies.  Resep yang menjadi acuan saya masih sama dengan yang dulu, karena terbukti, komposisinya menghasilkan rasa yang pas.


Sepintas, waktu pembuatan  cookies ini memang berlangsung selama tiga hari, tapi semuanya berlangsung dengan ringkas. Artinya, intervensi para bocah bisa diminimalisir karena prosesnya tidak diforsir seharian. Masing-masing sesi tadi butuh sekitar 1 jam untuk satu resep cookies.

Waktu yang paling ideal, tentu saja jelang tengah malam karena bocah-bocah sedang pulas tidur. Saat membuat cookies ini, saya juga nyambi menyelesaikan pekerjaan yang sudah dekat deadline. Oh, betapa multitasking adalah nama tengah setiap ibu di muka bumi :)


Jadi, setelah cookies nyaris matang dan sudah dikeluarkan dari oven, saya sudah menyiapkan icing-nya. Saya juga sudah punya gambaran mau bikin rupa-rupa seperti apa nantinya. Tapi begitu meneteskan satu tetes pewarna (yang mereknya cukup terkenal *setidaknya di kalangan tukang kue lokal* dan memuat izin Kementerian Kesehatan), saya kok jadi parno. Apalagi ketika pewarna itu menempel di kulit saya, dan perlu sedikit usaha untuk menghilangkannya karena tak lantas luruh jika dibasuh air saja.

Saya jadi berpikir, aduh sepertinya kok serem amat sih ini pewarna. Satu tetes saja bisa sedemikian kinclongnya. Saya jadi galau. Bukannya saya anti-pewarna, tapi kalau cookies ini juga akan dilahap si kecil yang baru 1 tahun umurnya, kok saya agak nggak tega. Akhirnya, gagal lagi deh rencana menghias cookies dengan warna-warni meriah :(
 

Tapi karena anak pertama sudah request minta cookies-nya ditaburi spikel warna-warni, okelah kali ini saya berkompromi, yang penting bukan untuk dimakan si bayi. Sementara itu untuk mengatasi pucatnya icing, sebagian saya campur dengan bubuk coklat, jadilah icing coklat yang lumayan lucu juga.

Selesai menghias satu loyang cookies, saya panggang lagi sejenak untuk mematangkan icing. Begitu seterusnya hingga selesai tiga loyang.


Pelajaran dari sesi membuat cookies hari ini adalah, jangan kelamaan memanggangnya kalau icing melapisi cukup tebal. Pengalaman saya, icing malah nyaris retak terkelupas, nyaris terpisah dari cookies.

Pelajaran lainnya, jangan membiarkan cookies berlama-lama di tempat terbuka. Maksudnya, begitu sudah mendingin, segera masukkan ke dalam toples tertutup, kalau bisa malah kedap udara, dan lebih oke lagi jika diberi silica gel. Ini supaya kerenyahan cookies tetap terjaga.


Begitulah cerita cookies kali ini. Anda yang tak segalau saya dalam hal pewarna makanan, tak ada salahnya bikin cookies yang lebih centil. Sepertinya sekarang adalah momen yang pas untuk membuat cookies karena lebaran akan segera datang. Jelas lebih keren dong kalau yang terhidang di meja adalah bikinan sendiri ;)


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...