20.6.16

Surga Pemasak di Footscray


 
Tak ada yang lebih membahagiakan seorang pemasak amatiran seperti saya selain menemukan surga belanja bahan-bahan dapur yang lengkap dengan harga relatif murah. Begitulah euforia yang terjadi saat saya terdampar di Footscray Market, beberapa kilometer di sisi barat dari pusat kota Melbourne, Australia.
Kawasan Footscray menjadi Little Saigon, juga Little Africa dimana mayoritas penghuninya adalah keturunan imigran Vietnam dan Afrika Timur. Di masa lalu, kawasan ini juga dikenal sebagai kawasan gangster, dan pernah pula dijadikan setting film Romper Stomper yang dibintangi Russel Crowe.
 

Footscray Market merupakan pasar tradisional yang menjual sayur-mayur-buah-daging-hasil laut. Di sisi lain pasar ini juga terdapat deretan sejumlah kafe dan salon, serta pertokoan yang menjual berbagai kebutuhan, mayoritas dengan corak Asia-Afrika. Namun jika tetap merasa perlu belanja di supermarket modern, kita bisa berjalan beberapa blok menuju Coles dan K-Mart.

 
Bagi saya, yang paling menyenangkan dari Footscray Market adalah keberadaan sayur dan bumbu yang tak mudah ditemukan di supermarket modern. Pokoknya semua lengkap, toko daging halal dan non halal ada di sini. Segala bahan-bahan makanan yang aneh-aneh juga ada, berserak di mana-mana, dengan harga relatif murah.

Salah satu yang tampak catchy buat saya adalah umbi-saya-tidak-tahu-namanya. Penampakan luar umbi ini terlihat biasa sementara sisi dalamnya berlubang-lubang. Karena situasi pasar yang memang riuh dan cukup padat di hari Sabtu, saya jadi tidak sempat bertanya tentang sayur (atau bumbu? atau buah?) yang alien ini.
Jangan kaget juga kalau menemukan jantung pisang, oyong (gambas), serta rempah-rempah penting untuk masakan nusantara. Untuk lauknya, ada berbagai macam toko daging, serta deretan toko-toko yang menjual bahan makanan hasil laut. Berbagai macam ikan, udang, kepiting, rupa-rupa moluska termasuk tiram, sampai bulu babi juga ada.


Pelahap buah juga boleh berkerjap mata bahagia karena hamparan buah-buah yang cukup murah, juga buah-buahan yang tak jamak dijumpai di supemarket. Calon pembeli juga diizinkan icip-icip buah-buahan yang dijual, sehingga ada guyonan kalau sedang bokek, bisa kenyang dengan berkeliling ke seluruh lapak buah Footscray.


Suasana pasar ini terasa 'sangat Asia' dengan teriakan bersahut-sahutan dari penjaga toko serta jarangnya wajah-wajah bule yang berbelanja di sini. Di beberapa sudut, ada pula pedagang kaki lima yang sesungguhnya ilegal, dan ada tukang palak yang iseng meminta recehan saat kami sedang nongkrong di taman kecil dekat pasar. Meski begitu, harus diakui bahwa sebagai pasar tradisional, Footscray Market cukup bersih dan nyaman buat belanja. Tak ada bau sampah menguar dan lantai dalam pasar pun tak becek.
Saking serunya belanja, rupanya hari sudah makin gelap. Sebungkus kebab sudah siap disantap untuk berbuka sembari menunggu bus untuk pulang. Troli pun penuh dengan perburuan kami sepanjang siang hingga maghrib tiba. Hasil belanja yang langsung dimasak suami saya untuk menu sahur adalah sup kepala salmon ini. Segar dan lezat!

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...