15.3.17

Klappertaart Jarak Jauh



Oh my, ternyata utang saya dengan blog ini sudah banyak banget. Foto-foto menumpuk dan berbagai cerita dapur terus datang dan pergi tanpa sempat diposting. Maafkan saya ya. Sebagai penebus dosa, saya mulai dari posting yang tertunda, klappertaart yang sesungguhnya dibuat hampir satu tahun yang lalu, 29 Juni 2016 di Melbourne.

Ceritanya saat itu saya dan suami diundang makan malam oleh supervisor suami dan saya membawa klappertaart ini sebagai hidangan penutup untuk disantap bersama. Demi hasil yang optimal, jelaslah saya mau pakai resep yang sudah pasti teruji saja karena mengolah kue mengharuskan ketundukan pemasak pada takaran resep. Sementara itu, tak semua yang disodorkan google bisa kau percaya, kawan. Yang paling aman, saya mengontak Inggried.

Ini adalah catatan Inggried (yang benar-benar dicatat dengan tulisan tangan) yang membantu saya untuk memastikan resep klappertaart Wilton yang dia pakai itulah yang hasil akhirnya mendekati sempurna. Belakangan hari, saya baru insyaf kalau sebelumnya resep klappertaart sudah pernah diunggah Inggried di sini dan di sini. Untunglah Inggried seorang perempuan yang sabar dengan kebawelan saya, hihihi...

Nah kenapa saya pilih klappertaart untuk dibuat pada hari itu, alasannya tak lain karena kemudahan menemukan bahan-bahannya di Asian store. Salah satunya, daging buah kelapa ini yang bisa saya temukan di Laguna Oriental Supermarket di QV, pusat perbelanjaan di daerah CBD Melbourne. Saya lupa harganya, yang pasti kalau dikonversi ke rupiah biasanya bikin kesal, hahaha...


Bahan-bahan lain, tidak ada masalah karena bisa diperoleh di supermarket biasa yang lebih dekat. Beberapa bahan dengan kualitas lebih baik bisa diperoleh dengan harga lebih murah daripada di Indonesia seperti butter karena memang produk dairy di Australia sangat melimpah. Kacang almond, kismis atau sultana juga banyak pilihannya.


Untuk mengolah klappertaart ini memang perlu ketaatan (pada resep), ketekunan, dan kesabaran. Seperti biasanya, untuk kue-kue serius begini, presisi takaran adalah kewajiban. Beda halnya dengan sebagian besar menu lauk yang bisa pakai jurus cemplang-cemplung. Yang ini, bisa fatal kalau memakai jurus tersebut.


Bagian paling seru memasak-tidak-di-rumah-sendiri sesungguhnya adalah mengatasi keterbatasan bahan maupun alat. Misalnya, soal timbangan, karena housemate saya belum punya timbangan kue, maka saya memakai timbangan koper. Selanjutnya, untuk membuat topping dari putih telur, saya mengandalkan kekuatan tangan emak-emak sebagai pengganti mixer.


Setelah tahap adonan inti selesai, putih telur yang telah dikocok sampai berbusa pun dituangkan, kemudian ditambahkan dengan taburan kacang almond, sultana, dan bubuk kayu manis. Inilah bagian favorit para bocah-bocah saya karena biasanya mereka punya jabatan resmi sebagai penabur topping.


Dan akhirnya, siapa yang tak merasa jatuh cinta saat membuka oven dan menemukan kue yang seindah dan selezat bayangan kita. Apalagi kalau ditambah pujian dari yang menyantapnya, tentu makin semangat lagi mencoba resep kue lain sekalipun kelihatan lebih rumit. Benar kan?



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...